NUSA DUA - Pemerintah tengah menyiapkan program untuk pengembangan minyak goreng curah menjadi minyak goreng kemasan sederhana yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasikan rendah pada tahun 2011 mendatang.
"Saat ini kita sedang membahas bagaimana melakukan program minyak kita, pada intinya bagaimana kita mengembangkan produk minyak goreng curah menjadi minyak goreng kemasan sederhana," ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di sela Indonesian Palm Oil Conference and 2011 Price Outlook di BICC Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Jumat (3/12/2010).
Menurut Mari, dengan produk minyak goreng kemasan tersebut, akan lebih memberi banyak keuntungan dibanding minyak curah. "Begitu dia dikemas itu akan lebih mudah termasuk harganya, kalau kita ingin menjual minyak goreng dengan harga lebih rendah dari harga pasar," katanya.
Program minyak goreng kemasan dengan harga di bawah harga pasar, kata dia diperuntukkan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. "Kita juga sedang menyusun bagaimana mekanismenya sekarang, program ini juga untuk antisipasi gejolak harga minyak tahun depan," ungkapnya.
Mari menambahkan, peluncuran program tersebut hampir sama dengan progran minyak goreng bersubsuidi pada 2008 lalu. "Hanya saja program sekarang ini, Kita harapkan lebih 'efektif' dan 'targeted', ya sembari jalan kita mengembangam program minyak kita," ucapnya.
Dipihak lain, terkait kondisi perekonomian global, saat ini harga minyak dunia relatif stabil meski ada kenaikan namun tidak besar. "Mungkin kenaikan harga ini merupakan refleksi keadaan perekonomian di Eropa," jelasnya.
Demikian pula terkait 'direktif' dan isu yang berkembang saat ini dinilai tidak terlalu berdampak besar, dalam arti tidak mempengaruhi semua perusahaan minyak Indonesia. Yang lebih penting lagi, ujar Mari, pemerintah sudah mengambil langkah-langkah dalam bekerja sama dengan semua perusahaan terkait, untuk bisa mengatasi masalah tersebut.
Untuk itu, semua pihak mesti duduk bersama dalam mencari solusi, karena jika dilakukan tanpa langkah bersama hal itu akan sulit dicapai. "Jika itu dilakukan tanpa kita benar benaer bersama maka bisa mengakibatkan dampak negatif "unfair punishmnet" kepada sektor kita, terutama kepada perkebunan rakyat di kelapa sawit," imbuhnya.
Menyinggung soal ada naikan harga CPO dunia, kata Mari, tentunya hal itu menyebabkan kenaikan harga minyak goreng. "Kalau kita baca berita kemarin RRT meminta agar para produsen minyak dunia tidak menaikkan harga sampai empat bulan ke depan," katanya. Untuk itu diperlukan penyusunan 'road map' melibatkan masing-masing kelompok kepentingan, dalam menentukan standar kepastian yang bisa diterima semua pihak.(adn)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.