Ilustrasi
DHAKA - Anjloknya indeks harga saham di Bursa Efek Dhaka, Bangladesh, hingga sebesar 660 poin atau 9,25 persen memicu kemarahan investor.Mereka turun ke jalan dan membakar ban,kayu, dan merusak mobil.
Aksi ini dilakukan untuk meluapkan kemarahan setelah otoritas bursa menghentikan perdagangan. Anjloknya indeks bursa kemarin merupakan kali kedua setelah sehari sebelumnya juga turun 6,7 persen pada penutupan hari Minggu.
Kemarahan investor ini terjadi karena mereka kecewa terhadap kinerja bursa yang anjlok dalam tiga pekan terakhir. Padahal, sepanjang tahun lalu Bursa Dhaka mencatatkan gain hingga 80 persen.
“Sekitar 5.000 investor protes di jalanan di depan gedung bursa. Beberapa di antaranya melakukan perusahakan benda milik pemerintah,” tutur petugas kepolisian Dhaka Azizul Haq.
Otoritas bursa Dhaka menyatakan, menghentikan perdagangan atas permintaan dari Securities and Exchange Commission setelah indeks anjlok hingga 660 poin (9,25 persen) dalam 54 menit awal perdagangan.
Ini merupakan kejatuhan indeks terbesar sepanjang 55 tahun sejarah berdirinya Bursa Dhaka. Akibat aksi itu, polisi harus turun tangan mengamankan kerusuhan yang terjadi di luar gedung Dhaka Stock Exchange. Petugas bahkan terpaksa menggunakan pukulan kayu dan water canon untuk mencegah meluasnya kerusuhan.
“Saya kehilangan lima juta taka (sekitar Rp630 juta) dari in-vestasi 10 juta taka.Ini sungguh gila.Semua simpanan saya lenyap,” ungkap Monirul Islam, salah seorang investor.
Bursa Dhaka mencatat rekor tertinggi di level 8.918,51 pada 5 Desember 2010.Namun, sejak itu indeks saham terus merosot hingga 27,4 persen. “Saya menempatkan seluruh uang di Bursa Efek Dhaka,”ungkap Humayum Kabir, investor lainnya yang kehilangan 60 persen uangnya dari total 2,5 juta milik keluarganya.
Awalnya, dia tertarik berinvestasi di bursa saham karena sebelumnya menteri keuangan Bangladesh menyatakan bahwa investasi di pasar modal itu aman.
"Kenyataannya, sekarang kami kehilangan semuanya. Mereka membungkus harga saham-saham jelek sehingga terlihat palsu. Kami sekarang tidak punya lagi tabungan,” ungkap Kabir.
Menurut laporan AFP, kapitalisasi pasar Bursa Dhaka pada awal Desember tahun lalu mencapai rekor tertinggi sebesar USD50 miliar. Namun sejak saat itu,aliran dana di lantai bursa keluar sekitar USD10 miliar seiring dengan upaya regulator meredam gejala overheating. Jika dibandingkan dengan bursa di negara lainnya,Bursa Dhaka termasuk yang paling kecil kapitalisasinya. Di kawasan regional saja, kapitalisasi Bursa Dhaka masih kalah jauh dibanding Bursa Bombay yang mencapai USD1,3 triliun.
“Kami selalu mengetahui bahwa kejadian ini tidak menyenangkan. Pasar ternyata tidak seterusnya tinggi, terjadi panic selling di kalangan investor ritel sehingga menyebabkan kekacauan,” papar analis LR Global Fund Reaz Islam.
Dia menambahkan, lebih dari 70 persen pelaku pasar modal di Bangladesh adalah investor kecil yang membelanjakan uangnya tanpa melihat fundamental. Dengan demikian, jika terjadi kepanikan di pasar investor tersebut bertindak sangat emosional. (Yanto Kusdiantono/Koran SI/wdi)