Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tunas Lampung Targetkan Pendapatan Rp3 Triliun

Hermansyah , Jurnalis-Kamis, 13 Januari 2011 |08:30 WIB
Tunas Lampung Targetkan Pendapatan Rp3 Triliun
Ilustrasi
A
A
A

JAKARTA - PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menargetkan pendapatan pada 2011 ini mencapai Rp3 triliun dengan laba bersih sebesar Rp200 miliar.

“Kami harap itu bisa tercapai di tengah momentum perbaikan harga jual komoditas CPO,” ujar Deputy President Director TBLA Sudarmo Tasmin di Jakarta.

Pada 2011 perseroan menganggarkan biaya belanja barang modal (capital expenditure/capex) total sebesar Rp559 miliar.Dana sebesar itu digunakan untuk perluasan kebun Rp259 miliar,biaya perawatan rutin Rp200 miliar,dan untuk pembangunan dermaga dan tangki timbun di Pelabuhan Panjang, Lampung sebesar Rp100 miliar.

Sementara, dana untuk keperluan capex tersebut dianggarkan perseroan dari kas internal sebanyak 35 persen dan sisanya 65 persen dari pinjaman perbankan. “Kalau untuk keperluan perawatan rutin kami ambil dari kas internal, yang lainnya dari pinjaman bank,” tuturnya.

Pada tahun ini,lanjut Sudarmo, perseroan berencana menambah lahan kebun sawit seluas 10.000 hektare (Ha).Perseroan akan membuka 7.000 ha kebun sawit baru di Banyuasin, Sumatera Selatan, dan di Pontianak,Kalimantan Barat,seluas 3.000 ha. Biaya investasi yang dibutuhkan adalah sebesar Rp259 miliar.

“Salah satu rencana ekspansi di tahun ini adalah memperluas kebun kami di Banyuasin dan Pontianak,” ujar dia.

Di Banyuasin perseroan memiliki lahan seluas 30.000 ha yang terdiri dari 17.500 lahan inti dan 12.500 merupakan lahan plasma. Hingga September 2010 lahan yang telah ditanami sawit adalah seluas 6.400 ha lahan inti dan 1.500 ha lahan plasma.

Sementara di Pontianak, TBLA memiliki lahan seluas 21.000 ha dan baru 3.300 ha yang telah ditanami. Analis pasar modal Edwin Sinaga menjelaskan,stabilnya harga komoditas sektor perkebunan,memengaruhi pergerakan saham emiten yang bergerak pada sektor perkebunan.

“Beberapa waktu lalu, harga komoditas sektor perkebunan memang cenderung naik. Tapi,sekarang sudah relatif stabil,” ujarnya.

Menurut dia, kinerja sejumlah emiten di sektor perkebunan cenderung fluktuatif. Kondisi ini dikarenakan fluktuatifnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan nilai tukar rupiah.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement