JAKARTA - Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia (KEI) tahap pertama (sampai 2014) difokuskan untuk pembangunan infrastruktrur yang membutuhkan dana sekira USD150 miliar.
"Kita harapkan dalam waktu lima tahun ke depan ini paling tidak kita mengejar angka USD150 miliar. Ini sebuah indikasi yang kita harapkan," ungkap Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, dalam acara Kick Off Penyusunan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (7/2/2011).
Hatta menambahkan, dalam pengembangan koridor ekonomi ini hanya sebagian kecil yang menggunakan dana dari APBN. "APBN cukup. Koridor ini dititikberatkan kepada swasta dan perusahaan nasional kita. BUMN kita, PP, foreign direct investment. Sebagian kecil dari APBN kita," tandasnya.
Pengembangan KEI diharapkan dapat menghasilkan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah sebagai fasilitator dan katalisator akan memberikan beberapa dukungan berupa insentif fiskal dan finansial, jaminan proyek, dan yang tak kalah penting adalah penyiapan kelembagaan,
"Kemudian kerangka peraturan yang terkait, serta dukungan kemudahan pelayanan publik dari pemerintah daerah serta penyiapan Project Development Facility (PDF)," jelasnya.
Seperti diketahui, Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Bappenas, Kementerian terkait, pihak swasta dan Pemerintah Daerah telah melakukan "kick off" Penyusunan Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.
Salah satu strategi penyusunan master plan ini adalah mengembangkan enam koridor ekonomi Indonesia, dengan membangun pusat-pusat pertumbuhan di setiap koridor dengan mengembangkan klaster industri dan atau kawasan ekonomi khusus yang berbasis sumber daya unggulan (komoditi).
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.