>

Pertumbuhan Industri Kayu Masih Negatif

|

Sandra Karina - Koran SI

Ilustrasi. Foto: Koran SI

Pertumbuhan Industri Kayu Masih Negatif
JAKARTA - Pertumbuhan industri barang kayu dan hasil hutan selama 2010 dinilai masih negatif.

Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi mengatakan, rata-rata pertumbuhan sektor industri barang kayu dan hasil hutan minus 3,5 persen pada 2010 dan minus 1,4 persen pada 2009.

Dedi mengatakan, pertumbuhan negatif industri barang kayu dan hasil hutan dipicu oleh beberapa hal. Pertama, kata dia, suplai bahan baku yang sedikit. Kedua, penurunan lemahnya daya saing produk dan pengusaan pasar di dalam negeri.

Dedi menjelaskan, banyak pengusaha nasional yang mengeluhkan suplai bahan baku barang kayu. Namun, kata dia, bahan baku kayu mentah diekspor.

"Pada saat yang sama, kata dia, pengusaha lokal sudah kehilangan pasar mereka di luar negeri karena kalah bersaing," kata Dedi di Jakarta, Selasa (8/2/2011).

Ketua Umum Asosiasi Panel Kayu Indonesia Abbas Adhar mengatakan, bahan baku bukan persoalan utama yang menyebabkan penurunan pertumbuhan industri barang kayu dan hasil hutan.

Abbas menjelaskan, suplai bahan baku tetap tersedia walaupun berkurang. Menurutnya, masalah utama yang dihadapi pengusaha adalah ketidakmampuan untuk menutup biaya produksi. "Banyak pabrik berhenti produksi karena tidak mampu bayar cash cost," kata Abbas.

Menurutnya, peningkatan biaya produksi terjadi di transportasi dan administrasi. Di mana biaya transportasi dan  biaya birokrasi lebih mahal. "Pengusaha seringkali diminta membayar lebih mahal dari ketentuan," ucapnya.

Abbas menjelaskan, tingginya biaya produksi menyebabkan produk kayu dalam negeri seperti kayu lapis, kayu gergajian dan kayu yang sudah diproses tidak bisa bersaing di pasar luar negeri. Ditambah lagi, tutur dia, industri pengolahan kayu lokal masih menggunakan mesin-masin lama yang efisiensinya rendah.

Dia menuturkan, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang sektor industri kayunya tumbuh negatif. Peminat produk kayu asal Indonesia, kata dia, terus mengalami penurunan karena harganya lebih mahal dibandingkan produk kayu dari negara lain.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Anshari Bukhari mengatakan, pertumbuhan industri manufaktur pada tahun lalu rata-rata 5,1 persen atau lebih tinggi dari target awal yang sebesar 4,69 persen.

Sedangkan pertumbuhan pada tahun sebelumnya hanya 2,6 persen. "Saya rasa ini hal yang menggembirakan," ucap Anshari.

Empat sektor industri tumbuh negatif pada 2009 yaitu barang kayu dan hasil hutan minus 1,4 persen, semen dan bahan galian non-logam minus 0,5 persen, logam dasar, besi dan baja minus 4,3  persen, serta alat angkut mesin dan peralatan minus 2,9  persen.

Selama 2010, industri pengolahan (nonmigas) tumbuh 5,1 persen, yang di antaranya terdiri dari industri makanan, minuman dan tembakau tumbuh 2,7 persen, industri tekstil, barang kulit dan alas kaki tumbuh 1,7 persen, serta industri kertas dan barang cetakan 1,6 persen, industri pupuk, kimia, dan barang dari karet 4,7 persen.

Kemudian industri semen dan bahan galian nonlogam 2,2 persen, industri logam dasar, besi, dan baja tumbuh 2,6 persen, industri alat angkut, industri mesin dan peralatan tumbuh 10,4 persen, industri barang lainnya 3 persen, dan industri barang kayu dan hasil hutan tumbuh minus 3,5 persen.

Pertumbuhan sektor industri pengolahan (nonmigas) di 2010 ditopang oleh sektor industri alat angkut, mesin dan peralatan. 2010 pertumbuhan industri sektor alat angkut, mesin dan peralatan melesat 10,4 persen atau tertinggi dari delapan sektor industri lainnya.

Sektor industri makanan, minuman dan tembakau tumbuh 2,7 persen, industri tekstil, barang kulit dan alas kaki tumbuh 1,7 persen, industri kertas dan barang cetakan 1,6 persen, industri pupuk, kimia dan barang dari karet 4,7 persen, semen dan bahan galian nonlogam 2,2 persen, logam dasar, besi dan baja tumbuh 2,6 persen, alat angkut, mesin dan peralatan tumbuh 10,4 persen, industri barang lainnya tiga persen. (ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kadin Nilai Sosialisasi Pasar Bebas 2015 Masih Kurang