Getting time...

2010,Ekspor Jerman Meningkat 18,5%

Kamis, 10 Februari 2011 07:24 wib
Ilustrasi
Ilustrasi
FRANKFURT - Kantor Statistik Jerman Destatis kemarin menyatakan ekspor Negeri Panser selama 2010 meningkat 18,5 persen atau senilai 951,9 miliar euro (USD1,3 triliun, Rp11.700 triliun). Nilai ekspor sebesar itu menjadikan surplus perdagangan 154 miliar euro atau naik 11,2 persen dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Destatis,Jerman yang kini eksportir terbesar kedua setelah China mencatatkan impor sebesar 797 miliar euro, naik 20 persen dibanding 2009.Ekspor terbesar Jerman mendapat keuntungan dari mitra zona euro dengan kenaikan 12,7 persen sementara impornya naik 16,7 persen.

“Secara keseluruhan, ekspor Jerman ke negara Uni Eropa naik 14 persen tapi impornya juga naik 17,5 persen,”kata Destatis.

Meski secara keseluruhan kinerja ekspor Jerman menguat, negara dengan perekonomian terbesar di Eropa itu masih tertekan krisis utang di kawasan tersebut.

Seperti diketahui, Eropa kini sedang berupaya bangkit akibat krisis utang yang telah menyebabkan perekonomian di sejumlah negara masih dilanda krisis. Pemerintah Berlin memperkirakan, perekonomian Jerman tahun diprediksi tumbuh 2,3 persen seiring berkurangnya defisit anggaran menjadi tiga persen dari produk domestik bruto (PDB). Khusus pada Desember lalu, ekspor Jerman tumbuh 0,5 persen secara bulanan, sementara impornya turun 2,3 persen.

“Saat pemulihan,kami berdiri di atas dua kaki,perdagangan dan permintaan domestik,” kata Menteri Ekonomi Jerman Rainer Bruederle.

Dia meyakini, saat ini perekonomian negaranya sedang berjalan dalam kapasitas penuh. “Jerman kini di bawah bayang-bayang China namun keduanya masih menjadi mitra terpenting di bidang perdagangan di samping Amerika Serikat (AS) dan Eropa Timur,” ujar Ekonom Senior ING Carsten Brzeski kemarin.

Sebelumnya Pemerintah Jerman melaporkan bahwa aktivitas industri negara itu sepanjang Desember lalu mengalami penurunan terburuk dalam dua dekade.Pada Desember 2010 output industri Jerman terkontraksi 24,1 persen disebabkan melemahnya sektor konstruksi. Melemahnya aktivitas industri Jerman juga terlihat dari data pesanan mesin pada bulan lalu yang turun 3,4 persen dibanding bulan sebelumnya. Padahal, pada November 2010, pesanan industri Jerman sempat menguat 5,2 persen.

Sementara itu,di Tokyo,indeks konsumen Jepang untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan pada Januari lalu menguat di tengah-tengah pulihnya pasar tenaga kerja. Indeks sentimen konsumen naik menjadi 41,1 pada bulan lalu dari sebelumnya 40,1 di Desember 2010.“Namun,meski terjadi kenaikan angkanya masih di bawah 50, yang mengindikasikan konsumen pesimistis lebih banyak dibanding optimistis,” ujar Kantor Kabinet Jepang kemarin.

Pemerintah Jepang mengaitkan hasil tersebut dengan kondisi ketenagakerjaan yang membaik, sehingga mendorong naiknya pendapatan sehingga lebih banyak konsumen yang membeli barang tahan lama.

Desember lalu, tingkat pengangguran Jepang turun menjadi 4,9 persen atau membaik 0,2 poin dari bulan sebelumnya. Kantor Kabinet Jepang juga mengatakan, kepercayaan konsumen pada Januari sama rata dan menjadikan sebuah revisi pertama dalam tujuh bulan. Indeks sentimen konsumen yang dirilis kemarin menunjukkan bahwa perluasan ekspor dan pendapatan perusahaan yang kuat. (Koran SI/Koran SI/wdi)
TWITTER »
twit