Ilustrasi
HONG KONG - Otoritas keuangan Hong Kong kemarin berjanji menambah suplai lahan di masa mendatang sebagai respons meningkatknya kemarahan publik atas terus naiknya harga perumahan.
Pemerintah semi otonom Hong Kong tidak ingin sektor properti menjadi gelembung yang menggangu perekonomian. Pejabat Urusan Keuangan Hong Kong John Tsang mengatakan, pihaknya juga akan mengumumkan kebijakan baru yang bertujuan meringankan beban akibat kenaikan harga properti di kota tersebut.
Kebijakan yang dimaksud meliputi subsidi sewa dan energi yang keduanya menjadi pemicu melonjaknya inflasi sepanjang tahun ini. Keputusan menyediakan dan menjual lebih banyak lahan merupakan hal baru dilakukan di lakukan otoritas di kota yang dikenal dengan harga sewa perumahan tertinggi di dunia itu.
"Kami bertekad mempertahankan pembangunan stabil dan sehat di pasar properti," kata Tsang dalam pidato anggaran tahunan seperti dikutip dari AFP.
Dia menambahkan, pemerintah memastikan akan mengadakan serangkaian lelang tanah sepanjang tahun ini untuk meningkatkan pasokan. Namun dia mengingatkan bahwa masih ada tantangan di tahun mendatang terutama dari risiko gelembung aset dan inflasi inflasi.
“Untuk itu, memerangi inflasi adalah tugas utama kami tahun ini," katanya.
Sebelumnya, pihak berwenang Hong Kong telah mengumumkan serangkaian tindakan untuk membendung kenaikan harga di kota padat penduduk itu, termasuk membatasi penjualan tanah ganda dan pengetatan pinjaman hipotek. Akan tetapi mereka gagal meredam kenaikan harga tanah yang dari wakktu ke waktu kian mahal.
Otoritas Keuangan Hong Kong juga memperingatkan, aliran dana "berlebihan" ke pusat keuangan di Asia itu telah memicu kegiatan spekulatif yang selanjutnya dapat mendorong harga properti terus menguat.
Tsang mengatakan, pertumbuhan yang kuat di China daratan dan Asia telah mendorong membantu Hong Kong bangkit kembali dari krisis keuangan global lebih cepat dari yang diharapkan. Tahun lalu ekonomi Hong Kong tumbuh 6,8 persen, lebih tinggi dari proyeksi 4-5 persen.
Namun, dia mengatakan tumbuh cepatnya pertumbuhan ekonomi tahun lalu mendorong kenaikan harga konsumen hingga 2,5 persen, sementara inflasi diperkirakan 4,5 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi diprediksi naik lima persen.
”Namun pemulihan ekonomi bisa pincang jika krisis utang di negara Barat dan Eropa masih terjadi dan membuat kabur prospek ekonomi Hong Kong,” ujar Tsang.
"Pemulihan ekonomi yang relatif rapuh di AS dan Eropa akan membuat tahun ini sebagai ujian kinerja ekspor Asia dan Hong Kong," tambahnya. (Yanto Kusdiantono/Koran SI/wdi)