Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

RI Belum Bisa Berhenti Impor Garam

Idris Rusadi Putra , Jurnalis-Senin, 21 Maret 2011 |11:46 WIB
RI Belum Bisa Berhenti Impor Garam
Ilustrasi. Foto: Koran SI
A
A
A

JAKARTA - Indonesia saat ini dinilai belum bisa menghentikan impor garam. Adapun impor garam Indonesia mencapai 1,6 juta ton dengan kebutuhan garam di mencapai 3,6 juta ton.

Hal ini diungkapkan Menteri Perikanan dan Kelautan RI Fadel Muhammad, dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Percepatan Penyaluran Kredit Investasi dan Modal Kerja Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Antara BNI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Senin (21/3/2011).

"Kita belum bisa berhenti impor garam, nanti kita kembangkan usaha ini, dan garam impor untuk Indonesia mencapai 1,6 juta ton, kita punya kebutuhan 3,6 ton garam," tandasnya.

Dia menambahkan, kondisi seperti ini karena longgarnya pengawasan dari tim penyuluh. Serta rendahnya harga garam yang dibeli dari petani. Pihak Kementerian Kelautan pun sudah membicarakan dengan presiden mengenai hal ini.

"Sekarang saya alami, pengawasan tidak ketat. Saya minta ke presiden naikkan harga garam dari petani, kita mulai bertahap, di bawah Dirjen Pesisir," tambahnya.

Maka dari itu, Fadel mengaku sudah menyiapkan dana untuk pengelolaan garam ini sebesar Rp96 miliar. "Nelayan Rp96 miliar untuk mulai program garam," ujarnya.

Di samping itu, program yang ditujukan untuk menyejahterakan nelayan ini nantinya akan bekerja dalam empat tahun dan akan ada intervensi pemerintah. "Syukur kita kalau bisa bekerja empat tahun, dan presiden berusaha ada intervensi dari pemerintah, biar nelayan lebih sejahtera," pungkasnya.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement