Ilustrasi. Foto: Corbis
SEOUL - Tidak ingin ketinggalan oleh China yang gencar ekspansi ke Afrika, Korea Selatan (Korsel) mengagendakan kunjungan langka ke Benua Hitam bulan depan. Korsel berambisi membuka akses ke sumber daya alam seperti yang pernah dilakukan Beijing sebelumnya.
Kunjungan Korsel akan dipimpin Menteri Luar Negeri Kim Sung-hwan dengan pertama kali mendatangi Gabon, kemudian ke Kongo dan Ethiopia pada 2-9 April mendatang.
Di Gabon, Sung-hwan dijadwalkan bertemu dengan Presiden Ali Bongo Ondimba. Sementara di Kongo akan bertemu Presiden Joseph Kabila dan di Ethiophia akan bertemu dengan Perdana Menteri Meles Zenawi.
Kedatangan Pemerintah Korsel ke kawasan Afrika, menandai dimulainya babak baru dalam hubungan multilateral. Diperkirakan, akan ada sejumlah kesepakatan di antara kedua belah pihak.
Sebelumnya, China lebih dulu menjalin kerja sama di berbagai bidang dengan imbal balik mereka mendapatkan akses ke sektor energi dan bahan baku di Afrika.
Sung-hwan merupakan pejabat tinggi pertama Korsel yang berkunjung ke Ethiopia. Di sana dia juga akan mengadakan pertemuan dengan Ketua Komisi Persatuan Afrika Jean Ping.
"Pembicaraan akan membahas proyek eksplorasi minyak di Gabon dan pembangunan infrastruktur di Kongo sebelum menyepakati kesepakatan di bidang energi," kata pejabat Kementerian Luar Negeri Korsel, dilansir dari AFP, Selasa (29/3/2011).
Pejabat itu menambahkan, Pemerintah Korsel berencana mengaktifkan perusahaan-perusahaan asal Negeri Ginseng itu untuk berperan di Afrika, negara berkembang yang kaya akan sumber energi.
"Perjalanan ke Afrika bermaksud membantu perusahaan Korsel memenangkan kesepakatan bisnis dan berbagi pengalaman dalam mengembangkan perekonomian," kata Kementerian.
Kunjungan Menteri Luar Negeri Korsel merupakan sejarah baru karena sejak 1986 belum pernah ada pejabat Korsel yang menyambangi Kongo. Demikian pula ke Gabon, sejak 1980 tidak ada pejabat selevel menteri yang pernah berkunjung.
Hal itu berbeda dengan China di mana pemerintahnya begitu aktif mencari mitra dagang di Afrika meski mendapat kritikan keras dari Barat. Baru-baru ini, China bahkan dengan terang-terangan mendukung rezim pemerintahan di Sudan yang dipimpin Omar al-Bashir dan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe.
Menurut laporan Pemerintah China yang dirilis Desember tahun lalu, pada 2009 China membenamkan investasi langssung di Afrika sebanyak USD9,3 miliar (Rp83,7 triliun). (Yanto Kusdiantono/Koran SI/ade)