>

Mundurnya CNOOC Picu Ketidakpastian Investasi Migas

|

Muhammad Rifai - Okezone

Ilustrasi

Mundurnya CNOOC Picu Ketidakpastian Investasi Migas
JAKARTA - Mundurnya CNOOC dari pemegang saham Blok West Madura Offshore (WMO) seharusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah agar tidak selalu membuat keputusan di last minute karena akan menimbulkan ketidak pastian.

"Bukan masalah mundurnya CNOOC, tetapi kebiasaaan pemerintah yang membuat keputusan di last minute, itu membuat ketidakpastian," ujar Direktur Eksekutif Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto, saat di tanyai wartawan usai seminar nasional di Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (10/5/2011).

Pri Agung menjelaskan, pemerintah jangan terlalu seenaknya menentukan keputusan dengan waktu yang terus-terusan mepet. "Tidak mungkin orang mau investasi tapi dikasih keputusan beberapa hari sebelum kontrak habis," ujarnya.

Dalam industri minyak dan gas (migas) keputusan seharusnya sudah ada kejelasan tiga atau lima tahun sebelum kontrak habis, agar ada kejelasan siapa yang akan meneruskan. "Jika diganti operator baru, operator baru tersebut juga bisa mempersiapkan dirinya," tambahnya.

Sebelumnya juga di infokan, mundurnya CNOOC tersebut karena Pertamina atau pemerintah tidak konsisten dalam mengelola WMO tersebut. Serta bisa mengganggu iklim investasi di Indonesia.

Kasus seperti ini sebulumnya juga pernah terjadi di Blok Cepu. Jika ditelusuri lebih dalam, pihaknya mengatakan permasalahan berpusat pada Undang Undang Migas. Seharusnya tiap Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) yang kontraknya akan habis harus menajukan kembali lima tahun sebelumnya. "Kodeco juga minta udah sejak tahun 2004, tetapi ini pemerintahnya," tutup Pri Agung. (wdi)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pertamina-BUMN Migas Angola Sepakat Kembangkan Bisnis