>

3 Asosiasi Plastik Hilir Tolak Safeguard Impor

|

Sandra Karina - Koran SI

JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas) Felix S Hamidjaja mengatakan tiga asosiasi plastik hilir nasional, termasuk Rotokemas menyampaikan surat penolakan pemberlakuan safeguard atas impor PP.

Pada Senin, 9 Mei 2011, Rotokemas, juga dua asosiasi hilir lainnya, mengirimkan tanggapan dan surat penolakan atas usulan penerapan safeguard impor PP.

"Kami menolak keras rencana itu. Sebab, meski Polytama nanti beroperasi normal, kita juga masih mengalami shortage pasokan PP. Impor tetap tinggi. Bahkan, hingga 2014, pasokan PP masih minus. Jadi, mau diapa-apain juga tidak layak diberlakukan safeguard," tegas Felix, di Jakarta, Senin (16/5/2011).

Di sisi lain, Felix mengaku, pihaknya kecewa dengan sikap KPPI yang tak kunjung memberikan ringkasan permohonan pemberlakuan safeguard tersebut. Ada peraturan yang melindungi hak kami untuk meminta ringkasan surat permohonan Inaplas, yang sifatnya tidak rahasia, terkait pengajuan permohonan safeguard atas impor PP itu.

"Namun, hingga saat ini, permohonan kami ini tidak ditanggapi oleh KPPI. Banyak alasan yang mereka sampaikan. Padahal, secara Undang-Undang, kami berhak mengetahui ringkasan surat permohonan itu, yang sifatnya tidak rahasia. Kami merasa dilecehkan KPPI," papar Felix.

Padahal, kata dia, jika safeguard diberlakukan, itu berarti menyangkut seluruh sumber di sleuruh dunia, tanpa diskriminasi. "Jadi, kami tidak tahu ringkasan permohonan Inaplas. Tapi, secara garis besar, kami tegas menolak upaya penerapan safeguard impor PP," tukas Felix.

Sementara itu, Wakil Ketua bidang Pengembangan Bisnis Asosiasi Industri Aromatik, Plastik dan Olefin Indonesia (INAplas) Budi Susanto Sadiman menuturkan kebutuhan PP di dalam negeri mencapai sekira 800 ribu ton per tahun.

Sebelumnya, dengan produksi Polytama, kata dia, kebutuhan tersebut bisa dipenuhi. Jika impor, imbuh Budi, paling berkisar 20-25 persen dari kebutuhan. Namun, lanjut dia, sejak November 2010, tanpa pasokan dari Polytama, produksi PP dari dalam negeri hanya sekira 520 ribu ton. Sekira 80 ribu ton di antaranya, kata dia, digunakan untuk memproduksi terpal plastik (HS 6306.12.00.00), yang saat ini juga dalam penyelidikan resmi untuk penerapan safeguard.

"Saat ini, kondisi industri plastik di dalam negeri terus mengalami perubahan. Terutama, ketika terjadi lonjakan harga bahan baku. Untuk Indonesia, dengan potensi kekayaan bahan baku untuk memproduksi PP, seharusnya ini adalah momen yang tepat. Tapi, kita akan lihat lagi, terutama terkait daya saing di dalam negeri," pungkas Budi. (ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    20 Perusahaan yang Disegani