JAKARTA- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menilai bahwa Indonesia belum saatnya melakukan ekspor terhadap komoditas buah dalam negeri. Pemerintah harus lebih berkonsentrasi pada ketersediaan buah lokal sepanjang tahun.
"Permasalahan yang paling penting sekarang adalah bagaimana agar buah local dapat menguasai pasar dalam negeri, itu dulu. Kalau kita dapat menggantikan separuh buah impor di pasaran jadi buah produksi lokal itu sudah sebuah prestasi tersendiri," ungkap Ketua Komite Tetap Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Kadin, Handito Joewono dalam sebuah talkshow di Jakarta akhir pekan ini.
Ia juga menyatakan bahwa ketersedian buah lokal di pasaran menjadi satu hal yang menjadi hal yang harus diselesaikan.
"Selama ini,mungkin rasa kepemilikan kita tehadap nanas subang atau jeruk Pontianak kurang karena kita belinya yang impor terus. Ini bahaya, kalau sampai satu generasi tidak ada yang mau nanam buah karena konsumen Indonesia enggak ada yang mau beli kan bahaya," lanjutnya.
Selain itu, ia juga menyatakan bahwa liberalisasi buah impor yang terjadi di Indonesia harus dihentikan. Langkah ini bisa dilakukan dengan memberikan kebijakan bea masuk dan PPN pada buah impor agar buah lokal dapat bersaing di dalam negeri.
"Mengekspor buah itu banyak hal yang harus diperhatikan seperti infrastruktur dan penyediaan teknologi. Teknologi pascapanen kita kan masih belum maju untuk membuat tampilan buah tetap bagus dan enak. Kalaupun bisa , harganya mahal dan kita tetap kalah," tutupnya.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor buah seperti jeruk mandarin dari China di kuartal satu 2011 sekira USD85 juta atau melonjak 25 persen dari kuartal satu tahun lalu yang sekira USD68 juta.
(Andina Meryani)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.