JAKARTA- Indonesia tidak harus bangga menjadi tuan rumah World Economic Forum (WEF) karena hal ini justru memperlihatkan bukti kegagalan pemerintah dalam menanggulangi krisis pangan.
"Penyelenggaraan WEF kemarin dan hari ini selalu dibayang-bayangi kegagalan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan khususnya karena WEF ini adalah instrumen utama globalisasi," ujar Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henri Saragih ketika dihubungi okezone Senin (13/06/2011)
Ia melanjutkan bahwa globalisasi yang dicanangkan dunia sejak tahun 1996 lalu tidak terbukti mensejahterakan rakyat.
"Globalisasi hanya menyebabkan kemiskinan,kelaparan dan pengrusakan lingkungan yang semakin parah. Buktinya, jumlah orang kelaparan sekarang mencapai satu miliar orang di seluruh dunia," lanjutnya.
Ia pun pesimis pada kesanggupan 14 perusahaan multinasional untuk membantu Indonesia dalam menyelesaikan dan menambah daya saing petani Indonesia ke depan.
"Mereka itu kan pemain lama yang justru telah mematikan petani dan UMKM. Mereka juga yang telah membuat angka kelaparan kita terus banyak. Saya pikir pemerintah tidak usah terlalu bangga dengan hasil-hasil WEF ini," tandasnya.
Seperti diketahui, WEF dilaksanakan kemarin dan hari ini. Salah satu hasilnya, adalah adanya komitmen dari 14 perusahaan multinasional untuk turut serta dalam program 20-20-20. Dalam starting pointnya selama tiga tahun ke depan, ditargetkan akan ada peningkatan produksi pertanian 20 persen, penurunan karbon dan kemiskinan sebanyak 20 persen.
Empat belas perusahaan tersebut diantaranya Nestle, Unilever, Sinarmas, Kraftfoods, Dupont, Metro dan sebagainya.
(Andina Meryani)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.