Ilustrasi. Foto: Koran SI
DEPOK - Baru-baru ini Asia dihadapi oleh krisis keuangan global dan memukul perekonomian terutama di sektor riil.
Sesuai data Bank Pembangunan Asia (ADB), Produk Domestik Bruto (GDP) Asia tahun lalu bertumbuh secara kuat yakni sembilan persen dan menunjukkan grafik perbaikan yang tajam.
Presiden ADB Haruhiko Kuroda mengatakan tiga negara di Asia memiliki pertumbuhan perekonomian yang cepat. Di antaranya Cina, India, dan Indonesia.
“RRC kami prediksi tahun ini pertumbuhan mencapai 9,6 persen, begitu juga India tahun ini di angka 8,2 persen dan 8,8 persen pada tahun 2012, Indonesia juga demikian dengan prediksi GDP 6,4 persen dari tahun lalu yang hanya 6,1 persen,” katanya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Kampus Depok, Senin (13/6/2011).
Namun, ia menambahkan, perbaikan perekonomian yang cepat bukan tanpa risiko. Sebab kenaikan inflasi juga menjadi salah satu tantangan, salah satunya akibat kenaikan harga minyak dunia.
“Risiko ini dapat mengancam stabilitas keuangan, namun pembuat kebijakan dapat menangani hal ini dengan baik,” tegasnya.
Pihaknya memperkirakan bahwa Asia akan memerlukan USD8 triliun selama 10 tahun ke depan guna memperbaiki dan membangun sarana infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal itu tentu dapat mempersempit pembagian desa dan kota.
“Pembangunan jalan, stasiun kereta, pelabuhan, bandara, energi, akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan,” tandasnya. (ade)