World Economic Forum. Foto: Heru Haryono/okezone
JAKARTA - Pengaruh perekonomian negara Asia dalam peta perekonomian dunia perlu dilanjutkan. Momentum stabilitas ekonomi bisa menjadi pemicu negara Asia memimpin dunia.
Gelaran World Economic Forum on East Asia yang berlangsung di Jakarta-Indonesia, resmi ditutup Senin 13 Juni malam. Salah satu kesimpulan dari diskusi selama 36 jam terakhir adalah mempertahankan dan memperkuat stabilitas dan kekuatan perekonomian negara-negara di kawasan Asia.
Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva mengungkapkan, saat ini dunia harus mendengar suara dari negara dunia ketiga atau negara berkembang, khususnya Asia.
Alasannya, ketangguhan ekonomi negara di kawasan Asia sudah sangat berpengaruh bagi pemulihan perekonomian dunia usai dihantam krisis keuangan global. Dia memberikan contoh perekonomian Indonesia yang mengalami kemajuan cukup signifikan dalam satu dekade terakhir.
“Kemajuan Indonesia luar biasa dan ini bukti dari reformasi ekonomi dan demokrasi di Indonesia,” tegas Abhisit saat menyampaikan kata penutup pertemuan World Economic Forum on East Asia, semalam.
Berbicara mengenai isu globalisasi, pada dasarnya merupakan transformasi antara teknologi dan kekuatan pasar yang menghasilkan peluang sekaligus tantangan.
Hal tersebut tidak bisa dihindari, sehingga harus dikelola dengan baik untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan berkelanjutan. Menurutnya, negara-negara di kawasan Asia harus mulai responsive menjawab tantangan globalisasi abad XXI.
“Krisis keuangan global sudah mengingatkan kita, dan saat ini kita kembali diingatkan untuk mencari solusi, berkoordinasi, bagaimana menemukan keseimbangan yang lebih baik,” tandasnya.
Menurutnya, mekanisme pasar saat ini menjadi kekuatan yang cukup besar dan dominan dalam perekonomian global. Hal tersebut menjadi alasan bagi negara di Asia untuk tumbuh dan bersaing dalam peta perekonomian dunia.
Salah satu langkah yang bisa diambil dengan meletakkan sekaligus melibatkan masyarakat bukan hanya sebagai motor pertumbuhan ekonomi.
Direktur Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank/ADB) Rajat M Nag mengatakan, dengan perkembangan ekonomi saat ini, negara-negara di Asia berpotensi lebih maju dan memimpin dunia. Khusus untuk Indonesia, ADB meminta pemerintah Indonesia untuk memfokuskan diri dan mendorong pembangunan infrastruktur untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
Dia menilai, kondisi dan kualitas infrastruktur di Indonesia masih tertinggal di kawasan Asia Tenggara, terutama untuk infrastruktur transportasi, listrik, dan irigasi.
“Indonesia memiliki potensi untuk pertumbuhan ekonomi yang dinamis di tahun-tahun mendatang. Pembangunan infrastruktur sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan Indonesia untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan menurunkan akngka kemiskinan,” tegas Rajat.
Wakil Presiden Boediono mengungkapkan, potensi terakselerasinya pertumbuhan ekonomi nasional sangat besar. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi pada level 7-delapan persen untuk jangka menengah sudah penuh dengan pertimbangan dan perhitungan yang matang. “Kalau dilihat dari potensinya, pertumbuhan ekonomi kami bisa mencapai sembilan persen,” ucap Boediono.
Namun, kata dia, pemerintah Indonesia menginginkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan tidak banyak mengorbankan sector-sektor lain. Mantan Menteri koordinator bidang Perekonomian ini sependapat dengan perlunya model pertumbuhan ekonomi baru yang mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kesejahteraan, lingkungan hidup, dan kemiskinan.
Wapres mengakui bahwa, potensi Indonesia untuk mengembangkan ekonomi sangat besar dan luas dengan dukungan kekayaan alam dan bonus demografi. Namun, diakuinya, kesenjangan masih terjadi antarwilayah dan daerah. Hal tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah untuk bisa menyeimbangkan perekonomian antar daerah.
Worldwide Managing Director Mckinsey & Company UK Dominic Barton optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia. Meskipun masih dibayangi sejumlah risiko, perekonomian Asia berpotensi untuk tumbuh dan terakselerasi dengan didorong ruang akan bagi pengusaha berinvestasi di berbagai sector yang dibutuhkan.
Namun, pengembangan infrastruktur, perbaikan kualitas penidikan dan kesehatan masyarakat, serta reformasi sektor publik harus dilakukan untuk mendukung hal tersebut.
“Saya optimistis, dengan risiko yang ada, banyak yang bisa diperoleh dari Asia. Banyak peluang investasi seperti di bidang infrastruktur dan yang terkait reformasi sektor public. Negara seperti Indonesia dan Thailand bisa memimpin hal tersebut, untuk bagaimana melakukan reformasi. Asia bisa jadi yang terdepan dalam era globalisasi baru,” kata Dominic.
Group Chief Executive HSBC Holdings UK Stuart T. Gulliver menilai gelaran WEF tahun ini melahirkan optimisme baru yakni terkait pendanaan infrastruktur. Sektor infrastruktur menjadi kebutuhan terbesar bagi pembangunan ekonomi kawasan Asia sehingga dibutuhkan peran pemerintah dan swasta untuk bersama-sama mengembangkannya.
“Menurut semua orang infrastruktur sangat dibutuhkan di sini (Asia). Untuk itu, butuh pembangunan di bidang keuangan dan pembaruan sistem persetujuan (investasi),” jelas Gulliver.
Presiden dan CEO Marvell Technology Group Sehat Sutedja menilai, meskipun Indonesia telah berkembang secara dramatis dalamn beberapa dekade terakhir dan mendapat keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dunia, secara tersirat masyarakat khawatir akan kecepatan perubahan dunia yang berbasis teknologi.
“Jadi kita bahas bagaimana bisa membuat dan mempercepat pembanguna ekonomi yang didasarkan pada teknlogi dan juga inovasi dalam ekonomi yang berbasis pertambangan, pertanian dan industri tradilsional lainnya,” katanya. (Wisnoe Moerti/Koran SI/ade)