JAKARTA - Gejolak perekonomian yang saat ini melanda Amerika Serikat (AS) memberikan setimen negatif bagi pasar saham global maupun Indonesia, namun pada sektor industri ekstraktif krisis tersebut bagai durian runtuh.
Deputi Menko Perekonomian Bidang Energi dan Mineral Kemenko Perekonomian Wimpy S Tjetjep mengatakan investor akan lebih memilih melakukan investasinya di negara-negara sehat atau industri yang menerapkan Extractive Industri Transparency Initiative (EITI).
"Tidak ada pengaruhnya (krisis ekonomi AS). Justru dia (investor) dengan demikian lebih antusias lagi. Kalau misalnya dia mau melakukan investasi, dia akan lari ke daerah-daerah yang sudah menerapkan EITI ini," kata Wimpy pada workshop bertajuk Security Asean Energy Supply: Learn From Best Practices Policy Framework and Global Standard to Improve Investment Climate di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (9/8/2011).
Wimpy menyebutkan, bukan krisis ekonomi di AS yang mempengaruhi ekspor ekstraktif ke Negeri Paman Sam tersebut. Menurutnya, permasalahan yang dihadapi adalah akuntabilitas atau konsep etika yang dekat dengan administrasi publik pemerintahan. "Tidak ada yang berkurang sama sekali ( jumlah ekspor batu bara). Cuma persoalannya ini masalah accountability-nya, jadi ini semuanya clean," tutur dia.
Sebelumnya, Tim formatur EITI Chandra Kirana menungkapkan, pengelolaan SDA industri ekstraktif membutuhkan standar internasional terkait pelaporan bagi perusahaan atas pembayaran yang dilakukan kepada pemerintah dan bagi hasil pemerintah atas penerimaan pendapatan.
Namun, sejauh ini belum tercipta transparansi pelaporan pengelolaan SDA oleh industry ekstraktif (minyak, gas alam, dan mineral). “Model, format pelaporan pengelolaan SDA melibatkan multi pihak. Pemerintah dan industri ekstraktif bersama tim pelaksana. Ada sekitar 20 standar yang dipergunakan,” tuturnya pada kesempatan yang sama.
Dia menjelaskan, dalam pengelolaan SDA transparansi adalah hal mutlak yang harus dipenuhi. Alasannya, sambung Chandra, Kebutuhan dan permintaan energi dunia yang semakin besar, diperkirakan akan mendorong pengalian secara besar-besaran tanpa memperhitungkan dampak lain.
Karenanya, timbul kekhawatiran penggalian serta pengeskportan SDA dalam jumlah besar tidak terpantau transparansinya. Padahal, kata dia, hasil pengolahan SDA bisa dimanfaatkan maksimal untuk mendukung pembangunan di sektor lain. "Ini menjadi tantangan sembilan negara kaya SDA di ASEAN, termasuk Indonesia," tambahnya. (rfa)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.