>

Krisis Ganda di Negeri Paman Sam

|

Koran SI - Koran SI

Ilustrasi. Foto: Koran SI

Krisis Ganda di Negeri Paman Sam
Resesi ekonomi di Amerika Serikat (AS) secara teori sudah berakhir dua tahun lalu. Tetapi, dengan hampir 14 juta orang Amerika yang kehilangan pekerjaan atau setara dengan 9,1 persen dari total angkatan kerjanya, Paman Sam boleh dibilang belum sepenuhnya terbebas dari krisis.

Kondisi ini diperparah dengan masalah utang yang mendorong lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) menurunkan peringkat AS menjadi “AA+” dari sebelumnya “AAA” untuk pertama kalinya dalam sejarah. Jadilah perekonomian AS kini dihadapkan dua masalah pelik, utang dan ketenagakerjaan.

Memang, dari sekian banyak pengangguran di AS, ada di antaranya yang masih memiliki pekerjaan dengan sengaja bekerja paruh waktu. Namun, golongan ini termasuk rentan karena risiko kehilangan pekerjaan bisa terjadi sewaktu-waktu.

Kepala Bank Sentral AS (The Fed) Ben Bernanke mengatakan, krisis pekerjaan di AS adalah masalah besar karena keterampilan seseorang yang tidak mempunyai pekerjaan selama enam bulan akan menghilang.

Pada Juli lalu tingkat pengangguran AS memang turun menjadi 9,1 persen. Namun, hal tersebut bukan merupakan kabar yang baik. Pasalnya, perubahan itu dikarenakan banyaknya pekerja yang pensiun atau keluar dari perusahaan. Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service menyatakan, kinerja ekonomi hanya sebuah periode penyesuaian.

Atau, sebaliknya krisis keuangan AS secara permanen telah merusak potensi pertumbuhan ekonomi Paman Sam. Perekonomian AS yang tumbuh tidak didorong pengeluaran konsumen. Sekadar informasi, ekonomi AS tumbuh 0,4 persen pada kuartal I-2011 dan 1,3 persen di kuartal II-2011.

Hal tersebut banyak disebabkan oleh perusahaan yang menghabiskan pada penjualan peralatan serta ekspor yang meningkat karena dolar melemah. Di AS, pada beberapa bulan terakhir banyak perusahaan yang memangkas karyawan guna menghemat pengeluaran dan menghidupkan pertumbuhan laba.

Hasilnya, mayoritas perusahaan AS melaporkan laba yang solid pada laporan kuartalannya. Di sisi lain perusahaan kini justru mengalihkan bisnis mereka dengan fokus ke negara-negara berkembang seperti China, Brasil, dan India.

Sebut saja perusahaan farmasi Merck yang memangkas karyawan hingga 13 ribu orang di mana 35–40 persen pengurangan karyawan dilakukan di AS, setelah perusahaan tersebut membeli Schering-Plough sebesar USD49,6 miliar dua tahun lalu. Berikutnya, Merck akan mengurangi 13 persen atau 12 ribu–13 ribu karyawan pada 2015 mendatang.

“Merck telah mengambil langkah sulit sehingga perusahaan dapat meningkatkan keuntungan,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Merck Kenneth Frazier.

Lain halnya dengan Boston Scientific, perusahaan yang memproduksi peralatan medis tersebut hanya memangkas sebanyak 1.400 karyawan karena turunnya permintaan alat stent dan pacu jantung.

Namun, Boston justru berencana membuka 1.000 lapangan pekerjaan baru di China, dalam rangka mengambil keuntungan dari pertumbuhan yang cepat di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Adapun, jaringan toko buku terbesar kedua di AS, Border Stores, telah menutup sebanyak 399 toko buku dan memberhentikan 10.700 orang karyawannya di AS.

Sementara, perusahaan teknologi raksasa Cisco melakukan pengurangan karyawan sebanyak 6.500 orang setelah sahamnya merosot lebih dari 20 persen tahun ini. Akibatnya, investor mencari perubahan besar dan Cisco melakukan restrukturisasi besar-besaran, bukan hanya mengurangi karyawan melainkan membuat sebagian karyawannya pensiun dini dan adanya perampingan di tim manajemen.

Produsen telepon pintar BlackBerry, Research in Motion (RIM), juga mengurangi 2.000 karyawan atau sekira 10 persen dari tenaga kerjanya guna merampingkan usahanya di tengah kurangnya permintaan produk smartphone. Perusahaan keuangan juga tidak lepas dari masalah ketenagakerjaan.

Raksasa keuangan Goldman Sachs Juli lalu mengumumkan akan memangkas 1.000 karyawannya dengan harapan mengurangi biaya hingga USD1,2 miliar per tahun. Begitu pula perbankan raksasa dunia Hong Kong and Shanghai Bank Corporation (HSBC) yang telah menyatakan akan mengurangi sebanyak 25 ribu karyawan di seluruh dunia guna mempertahankan keuntungan dan penghematan biaya antara USD2,5 miliar–USD3,5 miliar.

Namun, khusus untuk ekspansi bisnis di negara emerging market, termasuk negara di Asia, HSBC justru akan merekrut belasan ribu tenaga kerja dalam beberapa tahun ke depan. Sedangkan,perusahaan perbankan investasi Credit Suisse (CS) merumahkan 2.000 pekerja atau sekira empat persen dari tenaga kerja global guna menghemat dana perusahaan sebesar USD1,3 miliar.

Perusahaan lain yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah produsen pesawat Lockheed Martin. Perusahaan ini mem-PHK sebanyak 3.300 pekerjanya. Dan terakhir, perusahaan farmasi terbesar dunia, Pfizer, memangkas 5.530 karyawannya akibat beberapa produknya kehilangan hak paten serta adanya perampingan penelitian.

Dikutip CNNMoney, total sejak krisis keuangan 2008 silam, AS telah kehilangan 8,8 juta lapangan pekerjaan. Dari jumlah tersebut, yang baru terserap hingga saat ini hanya 1,9 juta pekerjaan. (CHINDYA CITRA) (ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Chevron Minta Kepastian Hukum untuk Pikat Investor