Ekonomi Jepang Siap Rebound di Kuartal III

Andina Meryani - Okezone
Senin, 15 Agustus 2011 11:53 wib
Ilustrasi Foto: Corbis
Ilustrasi Foto: Corbis
TOKYO - Perekonomian Jepang diperkirakan akan kembali rebound pada kuartal III atau periode Juli-September. Perekonomian negara ekonomi terbesar ketiga ini berkontraksi di kuartal I dan II usai bencana gempa dan tsunami mengguncang negeri matahari terbit tersebut pada Maret lalu. Namun, untuk kuartal II ini kontraksinya tidak sedalam pada kuartal sebelumnya.

Pemulihan ekonomi negeri Matahari Terbit tersebut dibalut kekhawatiran atas krisis yang menimpa negara Eropa yang dapat memicu krisis global. Hal ini bisa memberatkan Jepang yang sangat membutuhkan permintaan ekspor, meningkatkan kesempatan penjualan yen, serta intervensi lebih lanjut dalam melonggarkan moneter untuk mengamankan pemulihan ekonomi.

"Jika ekonomi global membaik dan permintaan untuk produk-produk Jepang tetap solid, kami pikir sektor eksternal tidak mungkin terpangkas banyak. Tapi pelambatan ekonomi yang lebih buruk dari perkiraan (global) dapat menyebabkan keterlambatan dalam pemulihan ekonomi Jepang, bahkan dengan perbaikan dari upaya rekonstruksi," kata ekonom di Credit Suisse, Satoru Ogasawara, di Tokyo, sebagaimana dikutip dari Reuters, Senin (15/8/2011).

Produk domestik bruto (PDB) Jepang turun 0,3 persen pada kuartal kedua. Namun ini lebih baik dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 0,7 persen dan 0,9 persen pada Januari-Maret.

Untuk basis tahunan, kontraksi ekonomi mencapai 1,3 persen terhadap perkiraan rata-rata penurunan tahunan yang sebesar 2,6 persen. Itu kontras dengan pertumbuhan ekonomi AS sebesar 1,3 persen per tahunan pada kuartal yang sama.

Permintaan domestik naik 0,4 persen di kuartal kedua, dan memberikan kontribusi positif dalam tiga kuartal terakhir. Konsumsi swasta, yang naik sekira 60 persen dari perekonomian, turun 0,1 persen pada April-Juni. Belanja modal perusahaan meningkat 0,2 persen atau lebih rendah dari perkiraan pasar yang naik 0,5 persen.

Permintaan eksternal atau ekspor ditekan sebesar 0,8 persen sebagai akibat dari bencana yang membuat beberapa produsen Jepang menunda pengiriman barang ke luar negeri.

Jepang melakukan intervensi di pasar mata uang dan kebijakan moneter di awal bulan ini. Hal ini bertujuan untuk mengekang kenaikan yen yang mendekati rekor tertinggi karena hal itu mengancam menggagalkan pemulihan ekspor usai gempa dan tsunami.

Analis memperkirakan, perekonomian akan keluar dari resesi pada Juli-September, setelah tiga kuartal berturut-turut mengalami kontraksi. Namun pertumbuhan global dan melonjaknya yen sepertinya akan menimbulkan risiko dan BOJ memperkirakan bahwa perekonomian akan melanjutkan pemulihan moderat di musim gugur. (and)
TWITTER »
twit