JAKARTA - Pembangkit tenaga listrik di Indonesia, akan mengadopsi teknologi tenaga air (hydro power) milik Norwegia. Pemerintah sendiri akan membangun proyek percontohan di Makassar.
Deputi Menko Bidang Kerja Sama Internasional Rizal Affandi Lukman menyatakan, 80 persen produksi tenaga listrik Norwegia menggunakan tenaga air.
"Mereka unggul dalam teknologi itu, karena itulah kita mengadopsi teknologi mereka di Makassar. Proyek percontohan sudah mulai berjalan," kata Rizal usai pertemuan dengan delegasi Norwegia di kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (27/9/2011).
Menurut Rizal, teknologi tenaga air memang lebih murah dibandingkan dengan panas bumi (geotermal). Dia menambahkan, proyek awal di Makassar, merupakan proyek skala menengah dengan proyeksi jangka panjang. Proyek ini, akan dikembangkan baik secara produksi maupun cakupannya ke daerah lain. "Proyek ini merupakan proyek investasi dan alih teknologi, tapi utamanya adalah alih teknologi," imbuh Rizal.
Bila dibandingkan dengan geotermal, memang investasi awal dalam teknologi ini memang relatif besar. Namun, Rizal menambahkan, ongkos perawatannya justru relatif lebih murah.
"Selain itu, proyek geotermal kebanyakan tersandung masalah lokasi, yakni di hutan alam yang harus dilindungi. Sehingga, harus ada ijin perubahan tata ruang, dan sebagainya," pungkasnya. (mrt)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.