Risk-Adjusted Return

Minggu, 2 Oktober 2011 13:52 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
Dari artikel saya dua pekan lalu Anda telah diberikan pengertian return riil, return aritmetik, return geometrik, dan return tertimbang berdasarkan uang.

Semua return ini sejatinya masih mengandung kelemahan yang sama dan serius yaitu belum memperhitungkan risiko, padahal risiko dan return adalah dua sisi dari sebuah koin yang sama. Jika risiko dipertimbangkan, kita akan memperoleh risk-adjusted return.

Risk-Return Trade Off

Dalam berinvestasi, mengabaikan perhatian pada risiko adalah tidak bijak. Dalam keadaan pasar sedang bullish, risiko sangat sering dinomorduakan.

Risiko sering mulai kembali diingat ketika pasar bearish. Mestinya, dalam segala kondisi, investor tidak melupakan risiko. Contohnya, pada Kamis (22/9) lalu IHSG merosot 328,4 poin (dari 3.697,5 menjadi 3.369,1) atau 8,9 persen hanya dalam satu hari.

Jika dihitung mingguan, IHSG anjlok 408,8 poin (dari 3.835,8 menjadi 3.426,4) atau 10,6 persen pekan lalu. Untuk periode bulan, IHSG pernah turun hingga 31,5 persen pada Agustus 1997. Terakhir, dalam setahun, IHSG dapat jatuh sampai 50,6 persen seperti yang terjadi pada 2008 yaitu dari 2.745,8 menjadi 1.355,4.

Banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan yang sangat erat antara risiko dan return. Anda mungkin pernah mendengar pepatah investasi berikut. Low risk, low return; high risk, high return; danno risk, no gain.

Selain itu, masih ada nothing ventured, nothing gained atau if you never throw a dice, you will never land a six. Pepatah mengenai ini yang paling saya suka adalah No guts, no glory atau (NG) 2. “Tidak ada nyali, tidak ada kejayaan”.

Ukuran Risiko

Risiko adalah kemungkinan terjadi kerugian atau return negatif dari suatu investasi. Dalam statistika, ukuran risiko adalah standar deviasi, dinotasikan (dibaca: sigma) yang dihitung dari gejolak turun-naiknya atau volatilitas harga. Semakin besar goyangan harga, semakin besar volatilitas, semakin besar debaran jantung investor sehingga semakin besar risiko.

Dalam teori investasi, itu menggambarkan total risiko sebuah portofolio.Total risiko ini terdiri atas dua komponen utama yaitu risiko sistematis dan risiko nonsistematis.

Risiko nonsistematis adalah risiko yang dapat dihilangkan dengan diversifikasi yaitu proses berinvestasi dalam banyak aset finansial sehingga kerugian dalam satu aset diharapkan dapat ditutupi dengan keuntungan aset lainnya.

Risiko nonsistematis sering juga disebut risiko unik, risiko spesifik, atau risiko yang dapat didiversifikasikan. Sedangkan risiko sistematis adalah risiko yang tetap ada setelah diversifikasi. Besar kecilnya risiko ini tergantung pada sensitivitas portofolio itu terhadap pergerakan pasar. Risiko sistematis ini untuk portofolio saham sering dinotasikan dengan (beta).

Dengan menggunakan excel, penghitungan dan menjadi relatif mudah. Kita cukup memasukkan data harian nilai portofolio kita selama periode tertentu, selama satu tahun misalnya, dan fungsi ’=STDEV’ ke dalam sel-sel excel, maka kita akan memperoleh ?. Untuk mencari, kita perlu membuat satu kolom baru untuk perubahan selisih nilai portofolio harian dengan bunga bebas risiko dan satu kolom lainnya untuk selisih perubahan harian IHSG dengan bunga bebas risiko untuk periode yang sama.

Kemudian kita lakukan regresi linier untuk kedua set data terakhir tersebut. adalah koefisien dari garis regresi yang didapat. Portofolio yang pergerakannya persis mengikuti pasar atau IHSG akan mempunyai = 1. Sedangkan portofolio yang naik (turunnya) dua kali lipat naik (turunnya) indeks kemungkinan mempunyai = 2 yang artinya berisiko dua kali lebih besar dari pada pasar.

Rasio Sharpe dan Treynor

Karena ada dua ukuran risiko yaitu total risiko dan risiko sistematis, kita mengenal dua ukuran utama risk-adjusted return. William Sharpe (1966) memperkenalkan rasio Sharpe yaitu excess return per satuan total risiko atau (return portofolio-bunga bebas risiko), untuk mengukur kinerja reksa dana saat itu.

Sebelum itu, Jack Treynor (1965) sudah menggunakan rasio Treynor yaitu excess return per satuan risiko sistematis atau (return portofolio-bunga bebas risiko), untuk tujuan yang sama.

Ukuran risk adjusted return mana yang lebih baik? Jones dalam bukunya, Investment (2007), mengatakan rasio Sharpe sebaiknya digunakan jika portofolio investor seluruhnya (atau sebagian besar) dalam sekuritas.

Untuk investor yang portofolionya terdiri atas banyak aset sehingga sekuritas hanya sebagian kecil saja, rasio Treynor yang lebih tepat. Sebagai ilustrasi, sebuah portofolio dengan risiko sistematis = 1,5 dan total risiko 10 persen memberikan return sebesar 20 persen.

Jika bunga bebas risiko (SBI) adalah delapan persen, kita dapat menghitung rasio Sharpe dan Treynor dari portofolio itu.

Rasio Sharpe adalah (20 persen-8 persen)/10 persen = 1,2 dan rasio Treynornya adalah (20 persen-8 persen)/1,5 = 8 persen. Ini berarti premi risiko (excess return) per unit dari portofolio itu untuk kompensasi rasa deg-degan yang dialami investor adalah 1,2 dan per unit sebesar delapan persen. Semakin besar rasio Sharpe dan Treynor sudah tentu semakin baik.

Berdasarkan risk-adjusted return, portofolio atau reksadana yang berkinerja terbaik bukanlah portofolio yang memberikan return nominal terbesar. Portofolio atau reksadana terbaik adalah yang mampu memberikan premi risiko per unit terbesar atau yang mempunyai rasio Sharpe dan atau rasio Treynor tertinggi.

Jika bunga bebas risiko dalam persamaan Sharpe diganti dengan target return dari investor, kita mendapatkan risk-adjusted return dari AD Roy (1952) yaitu rasio safety first. Rasio safety first adalah (return portofolio-target return) / Rasio safety first yang positif sudah lumayan karena berarti target return terpenuhi.

Masih ada satu rasio lagi yang sering digunakan untuk identifikasi kinerja (manajer) portofolio yang superior yaitu alpha dari Jensen yang akan saya bahas pada tulisan mendatang.

Tips dari saya, jangan ragu untuk mulai menghitung risk-adjusted return portofolio atau reksa dana Anda? Jika Anda masih bingung menghitung dari portofolio Anda, silakan ikuti petunjuk saya di atas.

BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan
(Koran SI/Koran SI/ade)
  • Didik G Subroto » 0 Tanggapan
    Sharpe and Treynor is so passe. The standard tools for professionals are now Value at Risk (VaR), Risk Adjusted Return On Capital (RAROC) and stress testing.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit