Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Investasi Produsen BlackBerry Setengah Hati

Wisnoe Moerti , Jurnalis-Selasa, 04 Oktober 2011 |17:30 WIB
 Investasi Produsen BlackBerry Setengah Hati
Ilustrasi. Foto: Okezone
A
A
A

JAKARTA – Investasi produsen BlackBerry, Research In Motion (RIM), sebatas perangkat lunak (software) dan pembangunan pusat penelitian (research centre), dinilai tidak akan optimal mendorong perekonomian Indonesia.

Pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengungkapkan, hasil pertemuan dan negosiasi antara pemerintah dengan RIM seharusnya lebih optimal menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen ponsel pintar tersebut.
Investasi sebatas pembangunan perangkat lunak di Indonesia, dipandang hanya mengelabuhi pemerintah yang sempat bereaksi keras atas kabar pembangunan pabrik manufaktur di Penang, Malaysia, sebagai upaya memenuhi produksi BlackBerry untuk kawasan Asia-Pasifik. “Sama saja setengah hati,” tegas Latif kepada kala dihubungi di Jakarta, Selasa (4/10/2011).

Dia memandang, pihak RIM tetap tidak mau dirugikan dengan membangun pabrik pembuatan ponsel BlackBerry di Indonesia. Wajar saja mengingat iklim investasi Indonesia yang tidak se-kondusif di Malaysia.

Di sisi lain, RIM tidak ingin kehilangan potensi pasar Indonesia yang sangat besar, sehingga komitmen investasi tersebut hanya sebagai kompensasi agar Indonesia tidak bersikap keras. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk mengambil manfaat lebih besar dari RIM jika menjadi salah satu produsen pembuatan Blackberry.

Selain dapat memperoleh nilai tambah dari hasil pembuatan, pemerintah juga bisa mendapatkan pajak penjualan, dan bea keluar atau pajak ekspor jika ponsel buatan Indonesia dipasarkan di pasar internasional.

Latif menegaskan, pemerintah perlu berjuang dalam proses negosiasi dengan RIM agar mampu mendapatkan manfaat optimal. “Jangan berpuas diri dulu, harus fight,” tandasnya.

Dalam proses kerja sama dengan RIM, Indonesia cenderung dirugikan, sehingga proses negosiasi dipandang kurang bermutu. Jika investasi RIM lebih optimal, maka mereka mendapatkan keuntungan menguasai pasar domestik yang besar. Sebab, investasi pembangunan pabrik akan menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah yang besar dan pada akhirnya mendorong ekonomi terakselerasi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika menilai, komitmen RIM untuk menanamkan investasi di Indonesia, merupakan jawaban atas persoalan yang selama ini terjadi. Menurutnya, sudah sewajarnya jika RIM menanamkan modal langsung di dalam negeri. “Itu wajar jika melihat konsumen Blackberry di Indonesia,” kata Erani

Dalam negosiasi dengan produsen Blackberry tersebut, pemerintah tidak perlu menjanjikan dan memberikan tawaran insentif fiskal. Besarnya pasar domestik bisa menjadi nilai tawar cukup besar bagi RIM.

“Pasti menguntungkan bagi RIM kalau investasi di sini karena kekuatan pasar kita yang sangat besar,” ucapnya.

Posisi tawar pemerintah cukup kuat untuk menarik investasi langsung. Hanya saja, perlu persiapan yang cukup baik untuk mendukung investasi software. (mrt)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement