Bunga Kredit Harus Ikuti Penurunan Penjaminan LPS

Yuni Astutik - Okezone
Minggu, 16 Oktober 2011 16:30 wib
Ilustrasi.
Ilustrasi.
JAKARTA - Tidak ada alasan lagi bank-bank untuk tidak menurunkan suku bunga kredit setelah turunnya suku bunga penjamin Lembaga penjamin Simpanan (LPS).

“Setelah turunya BI Rate dan kemudian diikuti penurunan suku bunga penjaminan LPS maka sudah seharusnya perbankan menurunkan suku bunga kredit. Bank jangan egois, dan terus mencari-cari alasan untuk memperlambat penurunan suku bunga kredit”, Wakil Ketua Panja Inflasi dan Suku Bunga Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel seperti dikutip dari keterangan persnya di Jakarta Minggu (16/10/2011).

Sebagaimana diketahui Bank Indonesia (BI) telah menurunkan BI Rate 25 bps menjadi 6,5 persen, setelah selama selapan bulan ditahan diposisi 6,75 persen. Kemudian hal ini diikuti Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menurunkan tingkat suku bunga wajar simpanan masyarakat di bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR) yang dijamin oleh pemerintah mulai 25 hingga 75 basis points (bps) mulai 15 Oktober 2011.

Adapun suku bunga penjaminan di bank umum untuk simpanan dalam mata uang rupiah turun 25 bps dari 7,25 persen menjadi 7,00 persen. Sementara untuk simpanan dalam valuta asing pada bank umum turun 75 bps dari 2,75 persen menjadi 2,00 persen. Sedangkan untuk suku bunga simpanan di BPR turun 25 bps dari 10,25 persen menjadi 10,00 persen. Alasan utama penurunan ini karena inflasi relatif rendah dan likuiditas perbankan saat ini cukup baik, sehingga diperkirakan suku bunga simpanan akan turun.

Selanjuntnya, dirinya juga meminta secara tegas, terutama untuk bank-bank BUMN agar menjadi pelopor untuk segera menurunkan suku bunga kredit. Karena market share bank BUMN besar, nanti diharapkan bank lainnya juga akan mengikuti.

“Keuntungan yang diraih perbankan pada semester lalu sudah meningkat sangat tinggi, diatas 40 persen. Perbankan harus peduli untuk mendorong dinamika sektor riil. Suku bunga kredit mikro yang masih dikisaran 20 persen, sangat-sangat mahal dan tidak adil. Mereka juga harus peduli dengan kondisi ini. Bank harus memikirkan keberlanjutan dunia usaha nasional ditengah ancaman resesi," tandasnya. (nia) (rhs)
TWITTER »
twit