Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Kondisi perekonomian dunia dalam beberapa pekan terakhir semakin memburuk dan perlu mendapat perhatian agar stabilitas perekonomian nasional terlepas dari ancaman risiko krisis di Eropa, Amerika Serikat, dan ancaman overheating di negara berkembang.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, memburuknya kondisi perekonomian dunia menjadi pokok bahasan prioritas dalam pertemuan rutin forum 20 negara PDB terbesar (G20) di Paris, Prancis pada 13-14 Oktober lalu.
Sepanjang September hingga Agustus 2011, terjadi koreksi atas perekonomian dunia. Pada April 2011, proyeksi atas pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan tumbuh empat persen pada tahun ini. Negara maju diperkirakan hanya mampu tumbuh 1,5 persen pada tahun ini. Sementara negara berkembang tetap stabil di kisaran pertumbuhan enam persen.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi terkoreksi ke bawah jika kondisi tidak kunjung membaik.
“Besar kemungkinan kalau tidak berubah, pertumbuhan ekonomi dunia hanya bisa satu persen. Ada koreksi ke bawah,” ungkap Menkeu saat menghadiri rapat koordinasi penyelesaian Rancangan Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2012 di Jakarta, Senin (17/10/2011).
Memburuknya kondisi perekonomian dunia, membuat pemerintah sedikit pesimistis akan perkembangan pertumbuhan ekonomi nasional. Menkeu mengatakan, melihat kondisi ekonomi global, terbuka kemungkinan target pertumbuhan ekonomi nasional 2011 dan 2012 tidak tercapai.
Meskipun dalam pembahasan RAPBN 2012, pemerintah dan Badan Anggaran DPR RI sudah menyetujui sejumlah asumsi makro, termasuk target pertumbuhan ekonomi 2012, pemerintah membutuhkan kerja keras untuk mencapai target tersebut.
“Mungkin kita tidak bisa capai 6,7 persen (tahun 2012). 2011 sebesar 6,5 persen mungkin perlu ada koreksi juga. Ada catatan kalau kondisi seperti sekarang, ada APBN-P 2012. Mari kita komitmen di 6,7 persen, kita upayakan capai itu,” janjinya. (Wisnoe Moerti/Koran SI/ade)