5 Peringatan Menkeu Soal Kondisi Ekonomi Dunia

Senin, 17 Oktober 2011 20:54 wib
Ilustrasi. Foto: Koran SI
Ilustrasi. Foto: Koran SI
JAKARTA - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan setidaknya ada lima peringatan yang perlu diperhatikan terkait kondisi ekonomi dunia.

Pertama, intensifikasi risiko krisis Eropa. Menurutnya, keadaan ekonomi dunia berpotensi semakin memburuk jika pengelolaan fiskal, likuiditas perbankan tidak terkendali. Negara-negara di kawasan Eropa harus bersatu menyetujui program penyelamatan.

Kedua, peringatan yang berasal dari kondisi di Amerika Serikat (AS) karena faktor pengelolaan fiskal. Tiga, adanya kemungkinan sovereign bond atau surat berharga negara berdenominasi dolar AS.

“Kalau kita secara umum memang mewaspadai SBN kita. SBN kita porsi dimiliki asing cukup besar, kita juga ingin SBN kita menunjukkan posisi yang stabil,” jelasnya, di Jakarta, Senin (17/10/2011).

Faktor keempat adalah ancaman kepanasan ekonomi (overheating) di negara berkembang. Stabilitas ekonomi Indonesia diapresiasi oleh negara lain di forum G20, sehingga diyakini masih jauh dari potensi overheating.

Fundamental ekonomi nasional cukup baik, namun diakui bahwa risiko memburuknya ekonomi dunia bisa berimbas ke Indonesia melalui tiga jalur yakni jalur kepercayaan, jalur perdagangan, dan jalur keuangan.

Kelima, risiko dari pemburukan kondisi ekonomi di Timur Tengah (Timteng) utamanya karena harga minyak dan lifting.

Menkeu menuturkan, terkait sistem penanganan krisis di tingkat regional atau international monetary system, sudah dibicarakan mengenai Regional Financial Arrangement (RFA). Untuk negara Asean+3 disebut Chiang Mai Initiative Multilateralization, dan diklaim yang lebih maju dibandingkan yang lain.

Sementara di tingkat Eropa, ada European Financial Stability Facility (EFSF). “Inisiatif regional untuk bantu negara-negara di kawasan kalau memerlukan dukungan,” tambahnya.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa menambahkan, pemerintah memfokuskan diri pada penguatan ekonomi.

Fundamental ekonomi nasional dengan krisis manajemen protokol yang cukup baik, pola koordinasi antisipasi dan mitigasi krisis yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia yang sangat baik menjadi faktor pendukung kualitas pertumbuhan yang baik.

Hatta lebih optimistis memandang perkembangan ekonomi dalam negeri. Momentum pertumbuhan yang terjaga, daya beli masyarakat yang stabil, tekanan inflasi yang rendah, membuat pemerintah lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk dari kondisi ekonomi dunia.

"Saya kok yakin kita akan jauh lebih baik daripada ketika kita menghadapi 2008, jauh lebih baik," kata Hatta.

Yang terpenting, kata Hatta, jangan menganggap enteng kondisi ekonomi dunia. Indonesia akan terus mewaspadai perkembangan ekonomi global, terutama jika terjadi pelemahan permintaan di Eropa dan AS.

Selain itu, penting menjaga dan memperluas pasar dalam negeri untuk menjaga tekanan inflasi tidak semakin besar. Menurutnya, pemerintah, kalangan perbankan, dan dunia usaha harus peka akan kondisi perkembangan ekonomi dunia. Sebab, keadaan ekonomi dunia tidak sebaik yang diperkirakan sejak awal.

Situasi dan kondisi di Eropa dan Amerika Serikat, khususnya Eropa mendorong Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.

Kondisi ekonomi dunia memiliki risiko dan dampak perekonomian ke negara lain. Tugas pemerintah dan insitutusi lain untuk menjaga dampak terhadap perekonomian dalam negeri. “Kita harus siap hadapi yang mungkin terjadi. Antisipasi semua itu,” tegas Hatta. (Wisnoe Moerti/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit