Ilustrasi
JAKARTA - Terhitung investasi Rusia di Indonesia untuk dua proyek yaitu rel kereta api dan pembangunan smelter mencapai USD6 miliar.
"Untuk pembangunan smelter di Maluku tahun depan USD2 miliar-USD3 miliar. Lalu yang railway di Kalimantan juga sekira USD2 miliar-USD3 miliar. Jadi dua itu saja sudah lumayan USD4 miliar-USD6 miliar," ungkap Menteri Perdagangan Gita Wirjawan saat ditemui seusai Business Forum dengan Rusia, di Hotel Indonesia Kempinski, di Jakarta, Kamis (27/10/2011).
Untuk pembangunan rel kereta api, menurutnya akan segera dilakukan sinkronisasi antara pemerintah pusat dengan gubernur Kalimantan. "Railway ini dengan catatan kan dari Kalteng ke Kaltim tapi tentu kita harus sinkronisasikan dulu pandangan Jakarta dan pandangan Gubernur Kalteng," katanya.
Selain investasi tersebut, Gita juga menerangkan jika potensi perdagangan Indonesia ke Rusia akan terus ditingkatkan khususnya untuk barang-barang yang memiliki nilai jual lebih.
"Potensi perdagangan kita selama ini kelapa sawit, batu bara, tapi kita mau coba ke depan itu lebih yang ada value added. Tekstil, sepatu, alat elektronik itu yang saya rasa logis," kata Gita.
Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai investasi Rusia ke Indonesia yang dinilai masih sangat minim, dirinya menyatakan akan terus meningkatkan nilainya agar bertambah untuk tahun-tahun mendatang.
"Ini kan untuk lima tahun ke depan ya (kecil). Kita upayakan tapi saya melihat jangka panjangnya ini kan 10, 15, 20 tahun, dua perekonomian ini akan ke triliunan. Besar sekali ya skala perekonomiannya, jadi kita harus berambisi untuk capai angka yang lebih besar," tandasnya. (wdi)