Ilustrasi. Corbis.
JAKARTA – PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) akan menerbitkan surat utang senilai total Rp2,5 triliun.
Surat utang tersebut terdiri dari obligasi konvensional senilai Rp2 triliun, serta obligasi subordinasi (subdebt) Rp500 miliar pada akhir tahun ini. Adapun, bunga yang ditawarkan sekitar 7,75–10,5 persen per tahun.
Plt President Direktur BII Rahardja Alimhamzah mengatakan, penerbitan obligasi dan subdebt ini merupakan bagian pertama dari penerbitan obligasi berkelanjutan. Menurut dia, total dana yang diharapkan sebesar-besarnya mencapai sekitar Rp2,5 triliun dari total Rp6 triliun yang akan diterbitkan ke depan.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendanai ekspansi kredit dan memperkuat permodalan. “Dana yang diperoleh dari obligasi setelah dikurangi biaya emisi, seluruhnya akan digunakan untuk meningkatkan aset produktif dalam rangka meningkatkan aset perseroan terutama kredit segmen usaha kecil,komersial,konsumer,dan komersial,”ujarnya di sela konferensi pers Penawaran Umum Obligasi BII di Jakarta kemarin.
Adapun, rincian dari penerbitan obligasi berkelanjutan IBII tahap I sebanyak-banyaknya Rp2 triliun dari total rencana Rp4 triliun.
Penerbitan obligasi tahap I ini dibagi dalam dua skema, yakni seri A dan seri B. Obligasi seri A berjangka tiga tahun dengan indikasi kisaran bunga7,75 persen-8,5 persen per tahun dan dibayarkan tiap triwulan. Obligasi seri B berjangka waktu lima tahun dengan indikasi kisaran bunga 8,75–9,5 persen per tahun dan dibayarkan setiap triwulan.
Sementara subdebt berkelanjutan I BII tahun I dengan jumlah sebanyak-banyaknya Rp500 miliar merupakan bagian dari rencana subdebt Rp2 triliun. Obligasi yang diterbitkan berjangka waktu tujuh tahun dengan kisaran bunga 10–10,75 persen per tahun dan dibayarkan tiap triwulan.
Menurut Rahardja, perkembangan eksternal, dengan masih terjadinya gejolak pasar terkait kondisi Eropa dan Amerika, tidak membuat perseroan khawatir. Pasalnya, setelah melakukan assessment, dampak terhadap pasar domestik cukup minimal meski tidak bisa diabaikan begitu saja.
“ Dampaknya tetap ada tapi memang klien kita terutama ekspor kebanyakan tidak berkaitan dengan Eropa,” ujarnya.
Managing Director Finance BII Thilda Nadason mengatakan, dengan tambahan modal ini maka rasio kecukupan modal perseroan akan meningkat dari periode September sebesar 12,33 persen menjadi kisaran 13–13,5 persen. Menurut dia, BII akan terus meningkatkan penyaluran kredit secara merata ke semua segmen bisnis.
“Secara industri kita ada 12 sektor industri dan tidak ada yang di atas 15 persen dan kita memang diversifikasi industri yang mau masuk dan kita sadar untuk alokasikan yang berimbang,” tukasnya. (Erichson Sihotang)
(mrt) (Koran SI/Koran SI/rhs)