Ilustrasi. Foto: Corbis
WASHINGTON - Perekonomian Amerika Serikat (AS) menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah pemerintah mengumumkan penjualan ritel Oktober lalu menguat 0,5 persen.
Data tersebut merupakan indikator positif karena sektor konsumsi di Paman Sam menyumbang 70 persen produk domestik bruto (PDB). Naiknya penjualan ritel bulan lalu meneruskan tren positif setelah pada bulan sebelumnya menguat 1,1 persen dan merupakan kenaikan kelima kalinya berturut-turut sejak Juni 2011.
Data Oktober juga lebih baik dibanding perkiraan analis yang meramalkan kenaikan hanya 0,3 persen Pada laporan yang dirilis Selasa (15/11) waktu setempat disebutkan, penjualan ritel ditopang sektor elektronik dan peralatan rumah tangga.
Meski penjualan meningkat, hargaharga barang relatif rendah sehingga tidak ditemukan adanya kenaikan inflasi di tingkat distributor.
Data indeks harga produsen yang dirilis bersamaan menyebutkan,terjadi penurunan harga sekira 0,3 persen. Hal tersebut akibat melemahnya harga bahan bakar minyak untuk kendaraan dan produk pertanian. Penurunan tersebut merupakan kali pertama dalam empat bulan terakhir.
“Perekonomian terlihat solid. Pertumbuhan (ritel) ini, meski tidak kuat, tidak begitu buruk namun cenderung lebih baik dibanding kuartal sebelumnya,” Kata Kepala Ekonom FTN Financial Alex Hoder.
Naiknya penjualan elektronik dan peralatan berimbas pada tumbuhnya aktivitas manufaktur terutama di negara bagian New York pada November ini, pertama kalinya sejak Mei 2011. Dalam catatan ekonom JP Morgan, meningkatnya aktivitas ritel di AS bulan lalu akan mendekatkan pada target pertumbuhan ekonomi 3 persen pada kuartal IV-2011, setelah kuartal sebelumnya naik 2,5 persen.
Membaiknya beberapa indikator bulanan ekonomi AS mendorong kinerja pasar saham di Wall Street menguat meski dibayangi kekhawatiran krisis utang zona euro yang masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Indeks Dow Jones pada perdagangan Selasa menguat 17,18 poin (0,14 persen) menjadi 12.096,16. Sementara, indeks Standard & Poor’s menguat 6,03 poin (0,48 persen) dan Nasdaq naik 28,98 poin (1,09 persen).
“Jika Anda membuat daftar risiko ekonomi,maka yang ada adalah isu utang Eropa dan isu perbankan. Keduanya akan berada di atas pikiran Anda,” kata Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Alan Krueger.
Meski data penjualan ritel sudah mulai membaik, Chief Executive Officer (CEO) Wal- Mart Store Inc Mike Duke mengatakan bahwa perusahaannya masih khawatir dengan konsumen AS yang dihantui buruknya sektor tenaga kerja.
Apalagi dalam sebuah survei yang dilakukannya, ditemukan fakta bahwa hanya satu dari 10 ibu rumah tangga yang melihat perekonomian AS berada dalam kondisi baik.
“Dengan harga makanan yang lebih cepat naik dibanding gaji pekerja, konsumen kini memberikan perhatian pada jenis makanan mereka selama liburan,” kata Wal-Mart.
Di bagian lain, Krueger juga menegaskan bahwa krisis utang Eropa harus mendapatkan perhatian meski kawasan tersebut memiliki kapasitas untuk memecahkan masalahnya sendiri. Terpenting, kata dia, Eropa bertindak cepat karena apabila tidak maka akan mengancam ekonomi AS dan dunia secara keseluruhan.
Sementara, Kantor Anggaran Kongres AS (CBO) menyatakan, meski secara umum beberapa indikator ekonomi membaik, saat ini AS masih berhadapan dengan ancaman tingkat pengangguran yang masih berada di level sembilan persen.
Direktur CBO Douglas Elmendorf mengatakan,AS kini dihadapkan pada masalah perekrutan tenaga kerja karena hambatan struktural.
Menurutnya, terdapat ketidaksesuaian antara kebutuhan lowongan pekerjaan dengan karakteristik pencari pekerjaan.
“Tingkat pengangguran kemungkinan akan di level sembilan persen hingga kuartal IV/2011,”ujar Elmendorf. Dia menggarisbawahi, tingkat pengangguran AS di atas 8,5 persen tersebut merupakan yang paling lama karena sudah berlangsung sejak 32 bulan silam, terpanjang sejak 1947. (yanto kusdiantono) (Koran SI/Koran SI/ade)