JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membutuhkan dana sekira Rp1 triliun untuk membangun infrastruktur-infrastruktur termasuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan membeli converter kit.
Hal ini disampaikan Wakil Menteri (ESDM) Widjajono Partowidagdo yang ditemui dalam acara revitalisasi konversi gas untuk sektor transportasi di Gedung Diklat ESDM, Jakarta, Selasa (22/11/2011).
"Kemarin saya rapat dengan wamenkeu, dana Rp1 triliun bukan buat subsidi tapi beli converter kit, bangun SPBG, dan infrastruktur yang lain. Kita ingin diversifikasi energi berjalan. Kalau ini jalan kita bisa menghemat Rp200 triliun," ujar Widjajono.
Menurutnya wacana go gas ini memang sudah lama namun pemerintah dinilai lamban memberikan keputusan untuk realisasi konversi tersebut. "Kita tuh sudah lama sekali go gas tapi tidak jalan-jalan kalau di Indonesia itu kebanyakan kurang mengambil keputusan," tegasnya.
Dia juga menegaskan masalah harga gas juga menjadi kendala dalam program konversi ini. "Jadi intinya kalau harganya pas banyak yang mau investasi disini. Intinya adalah kalau harga Rp4.100 banyak kok yang investasi di sini," tegas Widjajono.
Widjajono menambahkan, PT Pertamina (Persero) mampu mengelola konversi ini karena mereka memiliki lapangan sendiri. "Kalau pertamina yang punya lapangan sendiri bisa survive, kalau yang lain belum tentu," tambahnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.