Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Produksi Batu Bara di Indonesia Belum Capai 1%

Amir Sarifudin , Jurnalis-Rabu, 23 November 2011 |11:17 WIB
Produksi Batu Bara di Indonesia Belum Capai 1%
Ilustrasi. Foto: Okezone
A
A
A

BALIKPAPAN – Produksi batu bara di Indonesia belum mencapai satu persen, dengan hanya sekira 360 juta matrik ton per tahunnya.

Padahal, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) memperkirakan potensi kandungan batu bara saat ini mencapai 104 miliar metrix ton. Sedangkan cadangannya batu bara Indonesia berkisar 21 miliar metric ton.

"Jadi masih jauh sekali jumlah produksi dibandingkan yang kita miliki,” ujar Assisten Executive Director Asosiasi PBI, Anim Lukman, dalam seminar Balikpapan Mining Conference di Hotel Novotel, Balikpapan, kemarin.

Keberadaan batu bara yang diproduksi saat ini, masih banyak diekspor dikarenakan pasar dalam negeri belum mampu menyerap produksi batu bara dalam negeri. “Produksi batu bara Indonesia sebanyak 75 persen diantaranya untuk memenuhi kebutuhan ekspor luar negeri tujuan India, China, Jepang dan Korea Selatan dan Taiwan sisanya untuk dalam negeri,” tandasnya.

Menurut Anim, minimnya permintaan pasar dalam negeri disebabkan terbatasnya jumlah power plan PLN berbahan bakar batu bara di Indonesia. Batu bara sendiri peruntukan utamanya untk pemenuhan bahan bakar pembangkit listrik. “Power plan batu bara di Indonesia masih sedikit dibandingkan negara lain,” ujarnya.

Namun, dia memperkirakan pada 2020 mendatang, prosentase kebutuhan pasar batu bara untuk domestic akan lebih besar ketimbang untuk kebutuhan ekspor. Hal ini dikarenakan makin banyak power plan yang akan dibangun dekat mulut tambang.

Langkah ini, sebagai upaya pemerintah untuk mendukung pengembangkan industry manufaktur yang membutuhkan suplai listrik murah berbahan bakar batu bara. “Saya perkirakan ini berdasarkan Keppres 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energy nasional. Di situ akan banyak dibangun power plan sehingga pasar domestic lebih luas,” jelas dia.

Sampai saat ini, kata Anim, pasar ekpsor batu masih luas. Sebut saja China kebutuhan batu baranya mencapai 3,4 miliar metrix dengan produksi hanya 3,1 miliar metrix ton. Begitu pula India  saat ini membutuhkan hingga 600 juta metrix ton batu bara dimana produksinya hanya 500 juta metrix ton. “Kekurangannya dipenuhi dari Indonesia,” katanya.

Perusahaan batu bara Indonesia, sambungnya, juga ingin menyalurkan produksinya untuk pemenuhan dalam negeri. Hal itu bisa mengurangi bea pengiriman ke luar negeri yang menyerap keuntungan produksi.  “Kalau dalam negeri mampu menyerap, mereka tidak akan kirim jauh jauh ke luar negeri,” tuturnya. (mrt)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement