Ilustrasi Foto: Corbis
NEW YORK - Harga minyak merangkak naik di tengah perselisihan di Timur Tengah. Hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan serta memupuskan harapan jika krisis utang Eropa tidak akan menyebabkan kemacetan keuangan di seluruh dunia.
Dilansir dari Associated Press (AP), Rabu (23/11/2011), harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI), yang digunakan sebagai patokan harga minyak di Amerika Serikat (AS), naik USD1,09 menjadi USD98,01 per barel. Sementara untuk minyak jenis Brent naik USD1,99 menjadi USD108,65 per barel.
Kenaikan harga minyak ini berangkat dari kekhawatiran jika Iran akan mengurangi pasokan minyaknya. Selain itu, kondisi Mesir saat ini juga ditakutkan akan mengganggu persediaan minyak. Mesir memang bukan produsen minyak utama, namun menjadi kontrol jalur untuk pasokan energi yang cukup besar di wilayah itu.
Sementara itu, di New York Selasa waktu setempat, gas alam naik dua sen menjadi USD3,4150 per 1.000 kaki kubik, dan minyak pemanas naik empat sen menjadi USD3,0346 per galon.
Seperti diketahui, Dana Moneter Internasional (IMF) berencana untuk membantu krisis utang Eropa. Rencananya IMF akan menyediakan bantuan berupa uang tunai dengan persyaratan fleksibel untuk negara-negara yang menghadapai tekanan keuangan tiba-tiba.
Selain itu, kekhawatiran krisis utang Eropa dikhawatirkan akan memperlambat kegiatan industri di Eropa dan negara-negara di seluruh dunia yang mengekspor ke Eropa.
Di sisi lain, Departemen Perdagangan AS mengatakan ekonomi tumbuh lebih lambat selama musim panas daripada sebelumnya. Hal itu menjadi gambaran dari lesunya perekonomian.
Ketika ekonomi global melambat, permintaan minyak mentah dan produk olahan seperti solar dan bensin akan menurun karena barang diproduksi dan dikirim ikutan turun. Namun demikian, ada beberapa berita baik di AS yang mampu mendorong harga minyak lebih tinggi. Seperti misalnya, pada akhir pekan saat Thanksgiving, harga bensin naik hampir tiga persen menjadi USD2,56 per galon.
Sebelumnya, permintaan bensin di negara Paman Sam tersebut turun tajam karena harga minyak yang mulai naik hingga USD4 per galon di beberapa negara. (nia) (rhs)