ADB Pangkas Pertumbuhan Asia

Rabu, 7 Desember 2011 08:38 wib
Logo ADB. Foto: AFP
Logo ADB. Foto: AFP
HONG KONG - Bank Pembangunan Asia (The Asian Development Bank/ADB) menyatakan, negara-negara berkembang di kawasan Asia harus bergerak lebih cepat untuk meminimalisasi dampak negatif melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dunia.

Dalam laporan terkini yang dirilis kemarin, ADB menurunkan proyeksi pertumbuhan Asia Timur tahun depan akibat dampak krisis utang zona euro yang mengancam perekonomian global.

Lembaga keuangan yang berbasis di Manila, Filipina, ini memangkas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun depan turun menjadi 7,2 persen dari sebelumnya 7,5 persen untuk 10 negara ASEAN (the Association of South East Asian Nation) termasuk China, Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan.

Pejabat ADB mengatakan, kondisi yang sedang dihadapi Eropa dan Amerika Serikat (AS) berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,2 persen menjadi 4,2 persen untuk wilayah Asia Timur termasuk Jepang. Padahal, pada perkiraan sebelumnya pertumbuhan di kawasan itu diprediksi 5,4 persen.

Menurut ADB, penurunan proyeksi pertumbuhan tersebut terutama diakibatkan lemahnya permintaan eksternal, serta masalah utang Eropa. Banyak kalangan menilai krisis di Eropa bisa menjadi krisis keuangan besar-besaran dan berpengaruh pada ekonomi global.

“Skenario terburuk adalah AS dan zona euro jatuh kembali ke dalam resesi yang mendorong ekonomi global terperosok semakin dalam,” ujar laporan ADB Asia Timur. ADB menyatakan, dengan pergerakan krisis yang masih berada di Eropa, diyakini prospek pertumbuhan ekonomi untuk kawasan Asia Timur termasuk Jepang mengalami penurunan dari perkiraan September lalu.

Menurut ADB, pemulihan ekonomi global bisa terhambat jika zona euro dan AS jatuh kembali ke dalam resesi yang menyebabkan krisis keuangan global yang lain. Berdasarkan proyeksi ADB, ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan kawasan Eropa masing-masing hanya 2,1 persen dan 0,5 persen tahun depan. Ekonomi China diprediksi tumbuh sebesar 8,8 persen di 2012.

Pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN juga lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi hanya mampu tumbuh 6,5 persen 2012. Ekonomi Indonesia berpotensi melambat menjadi 5,5 persen jika Eropa dan AS benar-benar mengalami resesi. Sedangkan Thailand dan Jepang masing-masing hanya mampu tumbuh 4,5 persen dan 2,5 persen pada tahun depan.

Laporan ADB kemarin juga menekankan agar para pembuat kebijakan merespons dengan tegas dan kolektif segala upaya dalam membendung krisis. Selain itu, ADB juga memperingatkan risiko penurunan lain seperti proteksionisme dan instabilitas arus modal serta inflasi.

Meski demikian, masalah inflasi kemungkinan dikesampingkan karena dianggap telah mencapai puncaknya di sebagian besar perekonomian tanpa memprediksi resesi di wilayah tersebut.

Sementara, jika masalah zona euro berubah menjadi krisis besar-besaran bagi perekonomian global, dampak pada Asia Timur akan menjadi serius. Tetapi, efeknya bisa ditangani jika pemerintah segera bertindak tegas.

“Asia Timur harus bersiap untuk krisis berkepanjangan dan melambat pascapemulihan krisis dengan menerapkan reformasi struktural jangka panjang,” ungkap laporan tersebut.

Menurut ADB, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah tetap konsisten dalam mengelola pengeluaran pemerintah agar dapat membantu menjaga momentum pertumbuhan. Sementara untuk bank sentral, setiap negara harus cepat mengelola perangkat kebijakan moneternya untuk menjaga inflasi.

Sementara, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memprediksi, ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh di kisaran 6,3 persen pada tahun depan. Prediksi ini di bawah target pemerintah yang mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen.

Kepala perwakilan IMF di Indonesia Milan Zavadjil mengatakan, tingginya tingkat konsumsi masih menjadi penopang perekonomian Indonesia. Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyebutkan, dampak negatif krisis membuat permintaan dan konsumsi menurun. Menurutnya, perekonomian dunia masih dihantui krisis finansial di negara maju.

“Utang publik mereka yang tinggi menyulitkan belanja publik, turunnya konsumsi, dan investasi negara akan memengaruhi konsumsi, serta investasi global,” ungkap Menkeu. (wisnoe moerti/chindya citra) (Koran SI/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit