JAKARTA - Industri timah Indonesia tidak perlu selalu bergantung pada kondisi global. Bahkan industri timah Indonesia mampu menentukan kisaran harga timah dunia.
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi optimistis Indonesia bisa ikut menentukan harga timah, asalkan perdagangan timah dapat dikelola dengan lebih cerdas.
"Kita harus cerdas mengelola perdagangan produk - produk kita. Dilihat dari volume dan produksi kita adalah produsen timah besar, bahkan mungkin salah satu terbesar di dunia. Tapi terkadang dalam manajemen perdagangannya, kita perlu lebih cerdas dan pintar untuk melakukan itu," ujar Bayu Krisnamurthi saat ditemui di kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (9/12/2011).
Saat ini, harga patokan timah untuk seluruh dunia mengacu pada pasar timah di London dan Malaysia. "Sedih sekali kita produsen timah terbesar tapi kemudian perdagangan ditentukan orang lain. Nilai tambah kita minimal. Menurut saya, kita tidak bisa lagi berposisi seperti itu, kita harus cerdas," imbuhnya.
DIa mencontohkan produksi kelapa sawit (CPO), yang sekarang orientasi harganya sudah tidak lagi ke Rotterdam, namun kebijakan harga kawasan.
"Lama-lama nanti akan bisa seperti itu (industri CPO). Tentu kita harus realistis bahwa pasar Indonesia harus lebih tertata. Harus lebih bisa diandalkan dan beri pelayanan terbaik pada pelaku sehingga menjadi referensi. Tapi, di sisi lain, langkah kesana harus terus didorong sehingga kita bisa betul-betul mencerminkan posisi kita yang sebenernya," imbuhnya.
Untuk mengatasi harga timah ini, sudah dibentuk Bangka Belitung Tim Market. Bangka Belitung Tim Market dibentuk atas harapan agar harga timah bisa dikendalikan oleh Indonesia bukan negara lain. "Saya kira saya optimis kita bisa (ikut menentukan harga). Untuk itu saat ini kita perlu secara intensif berkoordinasi dengan pelaku di bangka belitung", pungkasnya. (mrt)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.