Valas

Senin, 19 Desember 2011 08:16 wib
Logo BEI. Dok: okezone
Logo BEI. Dok: okezone
Valas atau valuta asing (foreign exchange atau foreign currency) tak lain adalah alat tukar asing. Ia tidak ubahnya mata uang asing yang berfungsi sebagai alat tukar, alat pembayaran, atau alat pengukur tingkat kekayaan.

Sebagai mata uang resmi dalam transaksi internasional, setiap valas memiliki catatan kurs yang resmi di Bank Indonesia (BI). Dalam khazanah ekonomi internasional, valas dibedakan antara mata uang lemah (soft currency) dan mata uang kuat (hard currency).

Beberapa contoh soft currency misalnya adalah Rupiah Indonesia, Ringgit Malaysia, Peso Filipina, dan lainnya. Sedangkan contoh hard currency misalnya adalah Dolar Amerika Serikat (AS), Yen Jepang, Yuan China, Euro Eropa, Poundsterling Inggris dan masih banyak lagi.

Hampir setiap hari media massa, baik cetak maupun elektronik, selalu memberitakan perkembangan nilai Rupiah terhadap Dolar AS. Kadang Rupiah tampil gagah perkasa, dan semakin menguat terhadap Dolar AS.

Namun, di kali lain yang terjadi justru sebaliknya, Rupiah terlihat lunglai, loyo, dan tidak berdaya terhadap Dolar AS. Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai Rupiah senantiasa bergerak naik turun, berfluktuasi setiap hari.

Nilai tukar Rupiah sebenarnya tidak hanya dibandingkan dengan Dolar AS. Bisa saja Rupiah disandingkan dengan Yen Jepang, Dolar Australia, Yuan China, Euro Eropa, Poundsterling Inggris dan sebagainya. Perbandingan itu tergantung pada tingkat kepentingan masing-masing.

Selama ini, Rupiah lebih banyak disandingkan dengan Dolar AS karena Dolar AS memang banyak dipakai sebagai alat tukar dalam transaksi internasional.

Valas memang lebih banyak berkaitan dengan transaksi atau perdagangan internasional. Selain dipergunakan sebagai alat pembayaran, valas juga menjadi komoditi perdagangan yang ramai diperdagangkan di bursa valas. Pelakunya mulai dari perorangan, perusahaan, bank, atau bahkan negara.

Meskipun lebih banyak berkaitan dengan pasar uang, namun valas juga memiliki keterkaitan yang erat dengan bursa saham di setiap negara, termasuk bursa saham di Indonesia. Perubahan nilai valas, yakni Dolar AS terhadap Rupiah atau sebaliknya, seringkali mempengaruhi permintaan dan penawaran di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebagai gambaran, ketika terjadi arus beli saham oleh investor asing dengan jumlah yang sangat besar maka nilai Rupiah saat itu menjadi kuat. Hal ini disebabkan naiknya permintaan terhadap Rupiah di mana Rupiah dipergunakan untuk membayar pembelian saham tadi.

Begitu juga sebaliknya, ketika di BEI terjadi tekanan jual yang hebat oleh investor asing, maka nilai Rupiah akan turun dan Dolar AS akan naik karena uang hasil penjualan saham tadi akan keluar dalam bentuk Dolar AS.

Ilustrasi di atas baru di satu sisi. Di sisi lain, perubahan nilai valas tadi juga mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan-perusahaan atau emiten yang memiliki kewajiban dan pendapatan dalam Dolar AS.

Bagi emiten yang memiliki kewajiban dalam Dolar AS, pelemahan Rupiah akan membuat kewajibannya membengkak. Contoh nyata dampak dari pelemahan Rupiah ini banyak terjadi ketika krisis moneter 1997/1998 melanda Indonesia. Banyak emiten yang kolaps karena menanggung kewajiban Dolar AS cukup besar dan terbuka. Artinya, utang dalam Dolar AS itu tidak diproteksi atau di-hedge.

Sebagai gambaran, misalnya perusahaan X berutang pada Bank Asing A sebesar USD100 juta untuk jangka waktu dua tahun. Saat utang dieksekusi, nilai Rupiah masih sebesar Rp2.500 per USD. Jika dirupiahkan, pinjaman X tadi nilainya mencapai Rp250 miliar.

Nah, menjelang jatuh tempo, dua tahun kemudian ternyata nilai Rupiah melemah menjadi Rp10 ribu. Oleh karena itu, tak ayal nilai perusahaan X membengkak menjadi Rp1 triliun.

Namun, bagi emiten yang pendapatannya dalam Dolar AS seperti beberapa perusahaan tambang, pelemahan Rupiah atau penguatan Dolar AS tadi justru semakin menggelembungkan laba perusahaan. Jika perusahaan misalnya mencetak laba sebesar USD20 juta, dengan naiknya Dolar AS menjadi Rp10.000 per Dolar AS, maka laba perusahaan X tadi jika dirupiahkan nilainya berlipat ganda mencapai Rp200 miliar.

Kenaikan laba yang terjadi pada emiten hampir bisa dipastikan akan mempengaruhi nilai saham di BEI. Oleh karena itu, bagi emiten yang pendapatan usahanya berada dalam Dolar AS, maka setiap penguatan Dolar AS merupakan berkah yang akan mendongkrak harga saham di pasar. (Tim BEI) (//ade)
TWITTER »
twit