Ilustrasi.
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) yakin cadangan devisa Indonesia akan tetap cukup untuk menghadapi gejolak krisis global yang dipicu Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE). Namun, kualitas cadangan devisa Indonesia dinilai telah menurun.
"Memang BI masih yakin kalau cadangan devisa kuat hadapi krisis, kuantitasnya mungkin tidak akan terkuras banyak, tetapi kalau dilihat kualitasnya sudah berkurang banyak," ungkap Pengamat Perbankan Yanuar Rizki ketika dihubungi okezone, Sabtu (24/12/2011)
Menurut Yanuar, kualitas cadangan devisa telah berkurang dikarenakan selama ini BI terus menggunakan cadangan devisa untuk melakukan operasi moneter khususnya di pasar sekunder dan valuta asing. Seperti diketahui, cadangan devisa memang berkurang banyak sejak USD124 miliar di Agustus, dan kini hanya berada di angka USD111,3 miliar.
"BI memang sudah seharusnya melakukan operasi moneter di pasar, tetapi bukan hanya dengan itu saja. BI juga perlu menjaga kestabilan pasar dengan menjaga struktur pasar dan melihat persaingan perbankan," lanjutnya.
Menurut Yanuar, melihat peta persaingan perbankan penting karena 90 persen dana di Indonesia masih berputar di perbankan, sedangkan sisanya di lembaga keuangan nonbank seperti asuransi dan multifinance.
Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution masih optimistis bahwa di tahun depan, cadangan devisa akan cukup untuk membiayai impor dan cicilan utang luar negeri setidaknya selama tujuh bulan ke depan. Nilai cadangan devisa saat ini, sekira USD111,3 miliar sendiri menurut BI setara dengan 6,4 bulan hasil ekspor. (nia) (rhs)