Ilustrasi. Foto: Tangguh Putra/Okezone
Salah satu daya tarik saham adalah investor dapat meminimalkan risiko nonsistematis melalui diversifikasi. Tidak mengherankan jika manajer investasi (MI) reksa dana saham menerapkannya, dengan mengoleksi belasan hingga dua puluhan atau lebih saham dalam portofolionya.
Dengan dana kelolaan miliaran rupiah, MI mudah saja melakukan diversifikasi. Tidak demikian halnya dengan investor individu yang umumnya bermodalkan puluhan juta rupiah. Dengan dana pas-pasan, investor individu yang ingin menikmati manfaat diversifikasi dulunya hanya mempunyai pilihan reksa dana saham.
Untungnya kini sudah ada ETF (Exchange-Traded Fund). Dengan modal hanya Rp340 ribu (satu lot), seorang investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah dapat melakukannya.
Cukup dengan dana ratusan ribu rupiah, seorang investor dapat sesumbar memiliki sekaligus 45 saham terlikuid dan berkapitalisasi besar di BEI secara tidak langsung, seperti Astra International (ASII) yang harganya sekira Rp70 ribu per saham, Bank BCA (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), dan PT Telkom (TLKM).
Dengan diperdagangkannya ETF berbasis indeks LQ-45 atau index ETF dengan kode R-LQ45X sejak empat tahun lalu, investor mempunyai alternatif investasi baru. Kini diversifikasi saham dapat dilakukan dengan mudah dan biaya yang rendah. Apa itu ETF LQ-45 dan bedanya dengan reksa dana saham serta apa keuntungan dan risikonya?
Sejak 1990
ETF LQ-45 adalah produk reksa dana terbuka yang berbasis indeks LQ-45 yang unit penyertaannya diperdagangkan seperti saham di BEI. Untuk pertama kalinya, ETF LQ-45 dari PT Indo Premier Securities diperdagangkan di BEI pada 18 Desember 2007, bersamaan dengan ETF berbasis indeks obligasi (bond ETF) R-ABFII yang diluncurkan Bahana TCW Investment Management.
Di tingkat dunia, ETF pertama kali diperdagangkan di Kanada pada 1990 yaitu TIPS (Toronto Index Participation Share). Di Amerika, ETF berbasis S & P 500 diperdagangkan di Amex mulai 1993 yaitu Spider (Standard & Poor’s Depository Receipts) dengan kode SPDR. Di Eropa produk ini mulai ditawarkan sejak 1999.
Sejak saat itu, ETF berkembang sangat pesat dan pada tahun 2009,jumlah ETF di Amerika saja menembus 934 buah mengelola USD742 miliar atau sekira sepersepuluh dana kelolaan industri reksa dana di Amerika.
Di sana, kini ada ETF untuk emas, energi, dan komoditas lainnya atau commodity ETF, currency ETF, real estate ETF, dan lainnya. Investor cukup membeli ETFETF itu jika memprediksi komoditas tertentu, mata uang tertentu, atau properti akan naik harganya.
Tujuan diluncurkannya ETF LQ-45 di BEI adalah memberikan kesempatan kepada siapa pun, terutama investor kecil dan investor pemula untuk memperoleh hasil investasi yang setara dengan kinerja indeks LQ-45.
MI dari ETF LQ-45 sudah membeli 45 saham LQ-45 berdasarkan bobot masing-masing saham dalam indeks LQ- 45. Mereka kemudian menawarkan unit penyertaan dalam portofolio itu kepada para investor dalam bentuk saham.
Keunggulan
Sama seperti reksa dana saham lain, ETF LQ-45 yang terdiri atas 45 saham itu dapat diperjualbelikan (subscription dan redemption). Bedanya, investor dalam ETF tidak perlu membayar subscription dan redemption fee sebesar satu sampai tiga persen tetapi cukup biaya broker 0,1-0,3 persen untuk membeli dan 0,2-0,4 persen saat menjualnya.
Selain biaya transaksi yang lebih rendah, keunggulan ETF adalah reksa dana ini memberikan dividen dan transparan dalam pengelolaannya. Sementara itu, reksa dana saham yang ada di Indonesia tidak ada yang membagikan dividen.
Pada reksa dana saham konvensional, nilai aktiva bersih (NAB) akan dihitung pada sore hari setelah bursa tutup dan dapat diketahui esok harinya. Umumnya NAB akan naik (turun) jika indeks saham naik (turun), tetapi berapa besar naik dan turunnya NAB sebuah reksa dana saham masih tanda tanya besar, karena kita tidak tahu persis portofolio reksa dana saham tersebut setiap harinya.
Adapun ETF LQ- 45 sangat transparan karena nilainya adalah sekitar indeks LQ-45 yang setiap saat kita ketahui. Contohnya, saat diperdagangkan pertama kalinya, R-LQ45X berharga Rp581 karena indeks LQ-45 hari itu bergerak di sekitar angka itu. Di akhir November 2011 lalu ETF indeks itu berharga Rp660 karena indeks LQ-45 juga berada di kisaran itu.
Risiko
Tidak berbeda dengan reksa dana saham, investasi dalam ETF LQ-45 menghadapi risiko pasar yaitu fluktuasi harga saham karena faktor ekonomi makro seperti suku bunga dan nilai tukar, dan faktor sentimen investor.
Kedua, jika MI reksa dana saham konvensional melakukan stock picking (selection) untuk portofolionya dan market timing untuk memaksimalkan keuntungannya, ETF indeks tidak melakukan strategi aktif itu tetapi strategi pasif. Di satu sisi, strategi pasif menghemat biaya transaksi jual-beli saham untuk portofolio.
Di sisi lain, strategi ini juga mempunyai kelemahan. Saham apapun yang ada dalam indeks LQ-45 juga harus ada dalam portofolio reksa dana sebesar bobot saham itu dalam indeks LQ-45 itu. Kita tahu kalau tidak semua saham dalam LQ-45 adalah saham layak koleksi.
Ketiga, investor dalam ETF tidak selalu dapat menjual saham ETF-nya pada harga yang diinginkan. Investor ETF harus siap menghadapi risiko likuiditas ini dan kerugian akibat selisih harga bid-ask. Inilah yang terjadi dengan ETF ekuitas satu-satunya yang ada di bursa kita hingga akhir tahun ini.
Padahal, Bapepam sejak awal sudah meminta MI (Indo Premier) untuk bersedia menjadi market maker. Perusahaan sekuritas ini waktu itu berjanji untuk siap menjadi pembeli dan penjual stand-by demi terciptanya likuiditas dan menekan askbid spread serendah mungkin yaitu hanya Rp1 per saham ETF.
Dengan plus-minus di atas, ETF indeks LQ-45 mestinya cocok untuk investor pemula dan investor dengan dana ngepas yang ingin berinvestasi langsung sekaligus ingin menikmati manfaat diversifikasi.
Jika pada waktunya nanti saham ETF menjadi likuid, Anda dapat menerapkan strategi berinvestasi dalam ETF. Belilah ETF LQ-45 jika Anda percaya indeks LQ-45 akan naik, tetapi Anda tidak dapat memastikan saham apa yang akan naik. Jual lah saham ETF LQ- 45 jika Anda memprediksi indeks LQ-45 akan turun.
Buat saya, yang menarik dari diperdagangkannya ETF ekuitas berbasis indeks ini di BEI adalah semakin tidak jelasnya perbedaan antara investasi langsung dan investasi tidak langsung.
Dengan membeli R-LQ45X, Anda sepertinya berinvestasi langsung dalam saham, tetapi sejatinya Anda membeli reksa dana yang diperjualbelikan seperti saham.
BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan (Koran SI/Koran SI/ade)