Melirik Berkah Investment Grade

Rabu, 28 Desember 2011 08:40 wib | Koran SI - Koran SI

Ilustrasi: Grafik Ilustrasi: Grafik KETIKA negara lain di belahan dunia lain terancam penurunan peringkat utang negara, Indonesia malah menerima kenaikan peringkat utang dari BB+ menjadi BBB- dari Fitch Rating pada 15 Desember 2011.

Artinya, Indonesia memperoleh predikat layak investasi (investment grade). Berkah apa yang akan dinikmati bank nasional? Mengapa Indonesia naik kelas? Karena Indonesia dinilai oleh Fitch Rating memiliki prospek pertumbuhan yang kuat. Indonesia pun berhasil menurunkan rasio utang publik, memperkuat likuiditas eksternal, dan memiliki kebijakan ekonomi makro yang sesuai dengan prinsip kehati-hatian.

Kini Indonesia menanti predikat yang sama dari lembaga peringkat internasional lainnya, Standard & Poors dan Moodys. Jangan lupa, Indonesia pernah memperoleh predikat layak investasi pada 1997. Namun,predikat mentereng itu lenyap ketika Indonesia terlanda krisis ekonomi pada 1998. Predikat layak investasi berarti Indonesia menjadi negara yang nyaman dan aman bagi investor global.

Arus masuk dana asing (capital inflow) bakal membanjiri pasar keuangan nasional yakni pasar modal dan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI). Tengok saja, sehari setelah pengumuman itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke 3.768,35 atau menguat 1,8 persen setelah dua hari berturut-turut jatuh diterjang isu negatif dari Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga demikian.Pada penutupan 15 Desember 2011 (hari pengumuman itu), kurs tengah di Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs tengah rupiah menguat terhadap dolar AS ke Rp9.035 per dolar AS. Harapan pun makin membubung tinggi. Hal itu akan membawa efek positif bagi pasar modal sehingga IHSG diharapkan dapat menembus 4.000 pada akhir tahun di tengah ancaman krisis Eropa yang makin nyata.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun diharapkan makin kokoh pada kisaran Rp8.500. Apalagi, ketika BI terus menerus terjun ke pasar. Lantas,berkah apa yang bakal dinikmati bank nasional? Pertama,mempermudah untuk menggapai modal. Bagi bank, modal itu boleh dikatakan sebagai jantungnya.Modal sangat diperlukan untuk mengantisipasi aneka potensi risiko kredit, risiko pasar,risiko likuiditas dan risiko operasional yang melekat erat pada produk dan jasa serta aktivitas perbankan.

Bayangkan kalau suatu bank mengalami risiko likuiditas, bank itu akan terancam pailit. Kegagalan suatu bank bukan hanya merugikan pemegang saham (shareholders) tetapi juga pemangku kepentingan (stakeholders) antara lain pemegang saham, BI sebagai regulator moneter, pemerintah (Kementerian Keuangan sebagai regulator fiskal,Kementerian BUMN), DPR, relasi, karyawan, dan nasabah.

Nasabah pun meliputi nasabah perusahaan (bank,perusahaan pembiayaan, asuransi, sekuritas, dana pensiun, korporasi) dan nasabah perorangan.Ringkas tutur,begitu besar dampak kegagalan suatu bank sebagai akibat risiko likuiditas. Untuk itu, bank tentu saja membutuhkan modal besar sebagai penyangga atau bantalan (buffer) aneka potensi risiko sehingga makin dipercaya nasabahnya.

Dengan demikian, bank akan semakin perkasa. Selain itu, modal juga diperlukan untuk mampu bersaing dengan gagah berani dengan sesama kelompok bank atau kelompok bank lainnya. Sebagai informasi, Bank for Internasional Settlements (BIS) telah mengeluarkan konsep permodalan yang dikenal dengan The 1988 Accord (Basel I). Sistem ini sebagai pengukuran bagi risiko kredit dengan mensyaratkan modal minimum delapan persen.

Kemudian, BIS mengeluarkan kerangka permodalan yang dikenal dengan Basel II. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan kesehatan sistem keuangan dengan fokus pada perhitungan permodalan yang berbasis risiko. Indonesia akan menerapkan Basel II pada akhir 2012. Setelah itu, BI akan menitikberatkan pada pelaksanaan Basel III sebagai hasil pertemuan G-20.

Maka,predikat layak investasi itu juga diharapkan mampu meramaikan pasar modal sehingga mengundang banyak bank nasional untuk masuk bursa untuk menawarkan saham perdana (initial public offering/IPO) dan atau menerbitkan saham baru (rights issue).Penerbitan obligasi korporasi pun bakal terkerek naik. Kedua, mempermudah untuk mendapatkan pinjaman valuta asing (valas).

Selama ini bank nasional juga memanfaatkan predikat layak investasi untuk menilai bank lain dalam memberikan credit line. Credit line merupakan suatu persetujuan atau perjanjian oleh bank kepada suatu perusahaan untuk boleh meminjam kapan saja pada jumlah tertentu (Richard A Brealey dan Stewart C Myers,1991). Oleh karena itu, dengan mengantongi predikat layak investasi, bank nasional akan lebih mudah untuk memperoleh pinjaman valas dari bank asing di dalam atau di luar negeri.

Pastilah peringkat masing-masing bank nasional juga menjadi salah satu faktor penilaian utama dalam pemberian pinjaman valas. Hal ini akan memberikan darah segar bagi bank nasional dalam memelihara likuiditas di tengah sentimen negatif krisis utang Eropa dan AS. Statistik Perbankan Indonesia bulan Oktober 2011 yang terbit pada 15 Desember 2011 menunjukkan bahwa kredit valas melejit 40,59 persen dari USD244,73 triliun per Oktober 2010 menjadi USD344,06 triliun per Oktober 2011.

Tetapi, dana pihak ketiga (DPK) valas hanya tumbuh 6,39 persen dari USD345,29 triliun menjadi USD367,34 triliun. Ini menegaskan bahwa kredit valas lebih banyak disumbang bukan oleh DPK namun sumber lain misalnya kredit valas sebagai dana mahal. Sungguh, komposisi yang berisiko tinggi. Dengan berkah tersebut, modal bank nasional akan lebih berotot untuk mampu menekan potensi risiko.

Bank nasional juga lebih perkasa dalam bersaing dengan bank asing yang bermodal raksasa. Namun, ingatlah untuk selalu menerapkan manajemen risiko sebagai tameng dalam berbisnis.

PAUL SUTARYONO
Pengamat Perbankan dan Mantan Asisten Vice President BNI


(Koran SI/Koran SI/wdi)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป