Ilustrasi
WASHINGTON - Tahun Baru 2012 bukanlah tahun menggembirakan bagi Amerika Serikat (AS). Menurut catatan Departemen Keuangan dan sejumlah lembaga Pemerintah AS, per 30 Desember 2011 lalu utang Pemerintah AS telah mencapai USD15,22 triliun atau telah melampaui produk domestik bruto (GDP) AS secara keseluruhan sebesar USD15,18 triliun.
Bahkan, dalam beberapa hari pertama tahun baru 2012 ini utang tersebut telah naik lagi menjadi USD15,26 triliun pada 3 Januari lalu, atau bertambah USD4 miliar sejak 30 Desember. Itu berarti,menurut perhitungan Davemanual.com, setiap orang di AS menanggung utang sebesar USD50.149. Dari angka USD 15,26 triliun, utang publik domestik AS sebesar USD10,48 triliun dan utang luar negeri AS sebesar USD4,75 triliun.Utang luar negeri AS terbesar ke China,yaitu USD1,1 triliun,diikuti utang ke Jepang (USD979 miliar) dan Inggris (USD408,4 miliar).
AS juga berutang ke negara-negara eksportir minyak sebesar USD226,2 miliar, lembaga-lembaga lain sebesar USD217,3 miliar, Brasil USD209,1 miliar, Caribian Banking Center sejumlah USD175,2 miliar, Taiwan USD150,1 miliar, Swiss USD131,7 miliar dan Hong Kong USD 110,7 miliar. Utang publik AS yang telah menembus angka USD15,26 triliun tersebut untuk pertama kalinya sejak 1947, semasa Perang Dunia II. Krisis ekonomi belakangan ini telah memperlambat pertumbuhan ekonomi, bahkan pada satu periode telah menyusutkan ekonomi AS.
Sementara itu, utang nasional semakin melonjak, sebagian karena ekonomi yang melamban ini membutuhkan belanja pemerintah untuk jaminan sosial.Padahal pendapatan dari pajak menurun. Utang publik ini semakin parah setelah AS menghabiskan ratusan miliar dolar dalam perang di Irak dan Afghanistan. Defisit anggaran ini juga diperburuk oleh program-program wajib pemerintah seperti jaminan sosial dan kesehatan, yang tidak akan berkurang tanpa ada perubahan struktur fundamental program-program tersebut. Utang pemerintah juga semakin bertambah karena ada pemotongan pajak dan belanja domestik yang semakin besar. Memburuknya kondisi utang publik ini telah menjadi perhatian pemerintahan Presiden Barack Obama.
Pada 2 Agustus tahun lalu Obama telah menandatangani undang-undang pembatasan plafon utang atau dikenal dengan sebutan Budget Control Act 2011, untuk menghindari Negeri Paman Sam terjerumus ke dalam kebangkrutan. Undang-undang tersebut bertujuan untuk mengurangi defisit anggaran sebesar USD2,4 triliun selama sepuluh tahun ke depan.Namun, pada saat yang sama pemerintah mendapat jaminan pinjaman baru senilai angka tersebut. (Irawan Nugroho) (Koran SI/Koran SI/wdi)