Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemerintah Didesak Berikan Insentif Keuangan Ringan untuk Nelayan

R Ghita Intan Permatasari , Jurnalis-Selasa, 10 Januari 2012 |07:59 WIB
Pemerintah Didesak Berikan Insentif Keuangan Ringan untuk Nelayan
Ilustrasi: Nelayan
A
A
A

JAKARTA - Guna mengantipasi cuaca buruk dan gelombang besar yang akhir-akhir ini terjadi, pemerintah diharapkan mempunyai kebijakan optimalisasi budi daya perikanan dan insentif keuangan yang ringan bagi para nelayan.

"Pemerintah perlu melakukan terobosan kreatif dalam menangani situasi ini, diantaranya dengan menyerap para nelayan dalam proyek-proyek padat karya dan mengembangkan potensi perikanan budi daya lebih maksimal," ungkap Anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (10/1/2012).

Selain itu pemerintah diharapkan juga dapat mendorong adanya asuransi nelayan yang mudah dan terjangkau. Sehingga asuransi diharapkan dapat membantu keberlangsungan hidup nelayan meskipun kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melaut dan menangkap ikan, di sisi lain dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap rentenir.

“Tidak jarang seringkali mereka harus berutang kepada rentenir untuk memenuhi kebutuhan ekonomi harian. Situasi ini yang membuat nelayan tidak pernah bisa mendapatkan hasil yang maksimal saat musim tangkap tiba, karena harus menutup utang-utang,” paparnya.

Rofi menambahkan perlu ada perhatian serius dari pemerintah mengenai kondisi ini. Cuaca buruk di prediksi masih akan berlangsung selama bulan Januari 2012.

Berdasarkan catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2011 jumlah nelayan miskin tercatat 7,87 juta orang atau 25,14 persen dari jumlah penduduk miskin nasional. Ketergantungan nelayan tradisional atau miskin selama ini kepada rentenir masih tinggi. Salah satu contoh di tahun 2011 utang nelayan di pesisir kota Cirebon diperkirakan kepada bakul (pengijon) dapat mencapai Rp300 juta.

Sekedar informasi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat di Perairan Kalimantan Utara, Laut Natuna, Perairan Bangka, Perairan Jambi, Perairan Riau dan Batam, Laut Jawa bagian Tengah hingga bagian Timur, gelombang laut dapat mencapai tiga sampai lima meter.

Tercatat sekitar 20 ribu nelayan Sukabumi, sekira 60 persen di antaranya sudah tidak melaut. Nelayan tersebut tersebar di sejumlah titik pendaratan ikan yaitu Palabuhanratu, Cisolok, Cibangban, Ujunggenteng, Ciwaru, dan Minajaya. Begitu pula dengan nelayan yang tinggal di pesisir pantai Sukaresmi, Pandeglang, Banten, sejak sepekan terakhir tidak melaut.

Lalu di pulau Bali , khususnya di pesisir Pantai Kedonganan dan Kuta nelayan takut melaut. Sedangkan di kawasan Sumatera, para nelayan yang ada di Pantai Labu Deliserdang sudah hampir tiga minggu tidak melaut, hal ini dikarenakan kondisi cuaca yang masih buruk. Angin yang kencang membuat ketinggian ombak bisa mencapai tiga sampai empat meter.

“Cuaca buruk memang mengancam kehidupan nelayan, namun yang lebih mengancam adalah kehidupan nelayan yang semakin memburuk akibat beban hutang yang berlebih selama tidak melaut," pungkasnya.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement