>

Jejak Sejarah Banten: Jembatan Rante dan Tasikardi

|

-

foto: Tasikardi/bantenculturetourism.com

Jejak Sejarah Banten: Jembatan Rante dan Tasikardi
BANTEN, Banten Lama, tidak asing lagi. Berkendara kira kira dua jam perjalanan dari Jakarta kearah barat, menuju Serang dan dilanjutkan lagi ke arah Banten Lama. Tidak terlalu jauh  dari Jakarta, tetapi memberikan suasana lain. 

Kota Banten Lama banyak terdapat jejak sejarah, mulai dari Masjid Banten, Benteng Spellwijk , Keraton Kaibon, Pecinan Banten Lama, Tasikardi, Pasar dan Pelabuhan Karangantu, hingga Keraton Surosowan.

Bahkan struktur kotan Banten Lama sudah mengenal daerah pecinan yang terdapat Masjid Pecinan Tinggi, masih dapat ditemui bangunan rumah di daerah pecinan. Ini menggambarkan betapa majunya Banten Lama pada masa itu.

Keraton Surosowan mudah ditemui karena lokasiny dekat Masjid Banten. Keraton ini dibangun pada tahun 1552 dan pernah rusak karena diserang Belanda pada tahun 1680. Tetapi dihancurkan kembali oleh Belanda pada tahun 1813.

Keraton ini dikelilingi oleh benteng, maka dikenal pula dengan sebutan Benteng Surosowan. Lebih tepatnya disebut kawasan Benteng Surosowan, karena di dekatnya terdapat Keraton Surosowan, alun alun, Masjid Banten,dan  jalur transportasi air.

Jembatan Rante
Yang tidak kalah menarik adalah Jembatan Rante di sebelah utara dari benteng surosowan. Jembatan ini dibangun di atas anak sungai Kota Banten Lama, yang berfungsi sebagai "tol perpajakan" perahu pengangku barang dagangan pedagang asing yang masuk kota kerajaan. Ini mencerminkan betapa sudah majunya ekonomi dan politik kerajaan Banten pada masa itu. Dengan pajak yang masuk, Maulana Yusuf sudah banyak membangun fasilitas kota.

Jembatan Rante dibangun dengan dua buah tiang kokoh dari material bata dan karang di kedua sisinya. Bila tidak kapal yang masuk maka jembatan digunakan untuk menyeberang orang dan kendaraan darat, tetapi bila ada kapal yang merapat, maka jembatan dari papan itu diangkat menggunakan rantai, maka disebut jembatan rante.

Jejak arsitekturnya masih dapat dilihat, meskipun sudah tidak ada rantai dan papannya lagi. Dua tiang berukuran jumbo masih ada disana. Anak sungai pun masih ada, meskipun sekarang tidak digunakan lagi. Di sekitar anak sungai sudah banyak dibangun rumah penduduk.

Tasikardi
Yang tidak kalah memukaunya adalah Tasikardi. Danau buatan yang luas berfungsi menampung air dari sungai Cinbanten dilengkapi dengan sebuah pulau kecil di tengahnya. Tasikardi ini digunakan sebagai reservoir air ke  Keraton Surosowan dan keperluan air penduduk Banten Lama termasuk irigasi sawah.

Saluran air dari Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowan salah satunya untuk kolam pemandian Sultan Rara Denok dan Pancuran Mas. Bisa dibayangkan jarak Tasikardi dengan Keraton Surosowan kurang lebih sepanjang dua kilometer sebelah tenggara, itu bukanlah jarak yang pendek.

Kalau Anda berjalan menuju Tasikardi dari istana surosowan, masih terlihat hamparan sawah yang menghijau tumbuh subur, tentunya sistem pengairan yang baik. Teknik penyaluran air khas buatan Lucasz Cardeel dengan melalui pengindelan (filter station) arang, kuning dan mas.

Air dari Tasikardi langsung masuk ke lingkungan keraton dengan teknik penyaringan yang sudah baik. Dalam penyaluran air bersih digunakan pipa terrakota besar dan kecil (dari garis tengah 2-40 cm), dan diairkan langsung ke kran-kran logam pancuran mas.

Untuk penjernihan air yang nanti digunakan sebagai air bersih bagi penduduk kota dan keraton, digunakan cara penyaringan dengan teknik pengendapan dan poriositas batuan, pasir dan ijuk. Sistem inilah yang terjadi di Banten Lama, teknologi lama masih dapat digunakan sampai saat ini.

Oleh:
Rita Laksmitasari
Direktur Mitra Bangun Sekawan


(rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Elpiji 3 Kg Langka dan Diduga Palsu di Sukabumi