Mengelola Kreativitas

Jum'at, 20 Januari 2012 10:46 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
Kreativitas dan inovasi bagaikan mata uang yang bermuka dua, bertalian erat sekali. Sebagian orang bahkan mengartikan keduanya sama cuma beda istilah. Mereka berdua mirip tetapi tidak sama.

Tidak ada inovasi tanpa kreativitas, sebaliknya kreativitas tanpa dan bukan untuk inovasi, khususnya dalam dunia bisnis, akanlah sia-sia. Perbedaan dari keduanya adalah bahwa kreativitas lebih bersifat eksplorasi atau pengembangan pemikiran yang bersifat umum tentang apa saja dan lebih tertumpu kepada individu atau organisasi yang menggalinya atau mengembangkannya.

Sedangkan inovasi lebih dikhususkan untuk tujuan atau terkait dengan bisnis dalam hal ini produk atau jasa layanan, mementingkan atau bertumpu pada sudut pandang konsumen atau pengguna sebagai titik awal.

Perusahaan hanya dapat bertahan dan berkembang kala perusahaan itu berhasil secara terus menerus menggali, mengelola, dan menawarkan hal-hal yang inovatif, baik itu produknya maupun jasa layanannya kepada pihak yang paling berkepentingan: konsumen, pemakai, atau pengguna. Mereka lah yang mempunyai hak penuh untuk menentukan apakah akan membeli atau tidak, produk dan atau jasa layanan yang ditawarkan sebuah perusahaan.

Daya saing yang paling kuat adalah inovasi, oleh karena itu penting sekali dalam perusahaan inovasi digali terus menerus, dikembangkan dan dikelola, dengan menghubungkan atau mengawinkan daya kreativitas yang dimiliki oleh individu-individu dalam perusahaan atau organisasi dengan permintaan pasar yang terdiri dari konsumen; pemakai atau pengguna produk dan jasa layanan yang ditawarkan perusahaan.

John Whatmore dalam bukunya, Releasing Creativity, How Leaders Can Develop Creative Potential in Their Teams (Sterling VA, Stylus), menyodorkan sebuah check-list yang membantu kita untuk mengelola kreativitas dengan optimal.

1. Mengenali sumber-sumber yang potensial dari kreativitas.

Internal: a) Karyawan, setiap karyawan, bukan hanya yang bekerja atau berada di bagian riset dan penelitian atau pengembangan yang memiliki daya kreativitas.
Eksternal: a) Pengguna, konsumen, pelanggan, mereka mempunyai selera, insting, dan imajinasi yang dikaitkan dengan pengharapan mereka terhadap produk atau jasa layanan yang kita tawarkan dan pasarkan.
b) Saingan baik langsung dengan produk dan jasa layanan yang sama atau sejenis, maupun yang tidak langsung yang secara keuangan akan mengambil sebagai alternatif terhadap produk kita, contoh antara bubur dan mi instan.
c) Supplier dari bahan baku atau sebaliknya distributor dari produk kita, mereka menampung sekian banyak masukan dan informasi dalam keseharian mereka berbisnis dan tidak mustahil mempunyai masukan yang berharga untuk dikembangkan menjadi kreativitas dan selanjutnya inovasi.

2. Selaku pimpinan, Anda bisa merangsang ide-ide kreatif, dengan bertanya setiap hari kepada individu karyawan atau sekelompok yang berbeda, dengan mengobrol dengan mereka dalam suasana yang lebih informal dan santai contohnya sewaktu makan siang di kantin. Hal ini akan mendorong setiap karyawan berpikir lebih dari biasanya dan berharap suatu waktu ditanya oleh atasan mereka.

3. Memfasilitasi atau melengkapi dengan fasilitas dan lingkungan yang mendorong timbulnya kreativitas, contohnya menyediakan khusus sebuah ruangan dengan perlengkapan komputer yang memadai, kemudian menaruh produk-produk saingan, menaruh gambar-gambar para penemu besar seperti Thomas A Edison, yang membangkitkan semangat orang menggali dan menelurkan ide-ide kreatif.

4. Dibentuk gugus-gugus brainstorming dan focus group dengan pesan atau penugasan tertentu baik dalam batasan dan arahan produk dan jasa yang ingin dihasilkan maupun dalam kerangka waktu. Lebih formil sifatnya.

5. Pimpinan sesekali bergabung dalam diskusi penggalian ide tapi jangan mendominasi, boleh mendorong dan jangan terlalu lama bersama mereka, oleh karena pada umumnya kreativitas menjadi mandul di hadapan pimpinan apalagi yang otoriter, seperti dikatakan oleh Profesor Teresa Amabile dari Harvard Business School, bahwa ada kecenderungan pimpinan tidak terlalu suka jika bawahannya terlalu kreatif.

Selain alasan pribadi, seperti merasa tersaingi atau merasa dipecundangi, juga dalam rangka meredam karyawan yang bersangkutan untuk tidak terlalu bertingkah.

6. Sebuah proses kreativitas dan inovasi yang berhasil bisa menjadi pelajaran dan menjadi sebuah standar umum; prosesnya bukan inti hasilnya. Sebuah kreativitas harus dapat dikembangkan menuju inovasi karena itu adalah hasil akhir yang nantinya ditawarkan dan dipasarkan kepada pengguna atau konsumen.

Semakin inovatif semakin bernilai, apalagi yang tidak mudah ditiru oleh pesaing. Oleh karena itu dari sejak semula perlu ditetapkan "kriteria" dan dibuat SOP (standard operating procedure).

7. Sebuah produk atau jasa layanan bisa saja dianggap sangat brilian dan meyakinkan, akan tetapi harus diuji di pasaran, oleh karena itu perlu dilakukan market-test, dengan mengambil kota dan grup pengguna atau konsumen yang mewakili.

Dilakukan pantauan yang ketat selama beberapa waktu yang ditentukan; tentunya tidak boleh terlalu lama, oleh karena akan membangunkan macan tidur; pesaing yang berpotensi.

8. Sebuah ide yang mengarah ke inovasi dan berhasil dengan sukses di pasar serta mengangkat nama perusahaan dan menciptakan penjualan yang fantastis, perlu dihargai, mereka yang terlibat, bukan saja dengan reward sebuah kompensasi finansial, upacara penghargaan yang diadakan secara khusus,akan tetapi juga nama mereka perlu diabadikan dalam "Hall of Innovators" dengan foto-foto yang bercerita.

Ini akan menjadi dorongan yang sangat kuat bagi setiap karyawan, sekarang maupun yang akan datang untuk berusaha menelurkan ide-ide yang kreatif. Besarnya biaya adalah relatif, Anda boleh saja menekan biaya serendah mungkin namun berakhir dengan tidak menghasilkan hal yang diharapkan, akhirnya akan menjadi jauh lebih mahal ketimbang biaya yang (lebih) besar namun mendorong suksesnya produkdan jasa layanan Anda di pasar, serta dalam jangka panjang mengangkat nama perusahaan, menaikkan penjualan dan keuntungan, dan pada akhirnya meningkatkan harga saham.

Jangan pernah berhenti berinovasi dan ingatlah dibalik itu ada kreativitas yang harus dikelola dengan benar dan baik. Sukses!

DR ELIEZER H HARDJO PHD, CM
Anggota Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) & Institute of Certified Professional Managers (ICPM)
(Koran SI/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit