Ilustrasi. Foto: Corbis
NEW YORK - Bank terbesar di Amerika Serikat (AS), JPMorgan Chase, membukukan rekor keuntungannya di 2011 lalu. Namun ternyata, untung bukan berarti seorang bos JPMorgan Chase bisa mendapatkan bonus.
Hal tersebut dialami sang Chief Executive Officer (CEO) JPMorgan Chase Jamie Dimon. Dirinya harus rela bonusnya dipangkas karena laporan terbaru kuartalan Morgan Stanley melampaui ekspektasi sebab biaya bank tersebut dipangkas dan dibersihkan untuk terhindar dari krisis keuangan.
Namun, CEO Morgan Stanley melihat bila harga sahamnya akan jatuh pada pertengahan tahun ini. Senada dengan bank Wall Street yang membatasi pemberian bonus karena kinerjanya di tahun lalu yang ditandai dengan jatuhnya harga saham dan masalah mortgage.
Dilansir dari Straits Times, Selasa (24/1/2012), pada tiga bulan belakangan ini, ketakutan akan krisis utang Eropa membuat harga saham dan pasar obligasi bergerak volatile.
Investor yang kebanyakan berasal dari sektor perbankan lebih ingin menghindari adanya merger, akuisisi, serta penawaran umum saham perdana bagi perusahaanya. Hal tersebut diyakini mereka dapat bisa mengurangi biaya penjaminan dari perbankan investasi berkurang.
Di sisi lain, perbankan juga harus menghadapi kemarahan kaum populis dengan adanya gerakan (occupy) Wall Street secara nasional. Kemudian, pihak Goldman Sachs memangkas kompensasi sebesar 21 persen di 2011.
JPMorgan Chase & Co sendiri mengungkapkan bila awal bulan ini telah menyisihkan kurang dari 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya untuk membayar bankir investasi mereka.
Sementara Morgan Stanley mengatakan pihaknya akan tetap membayar bonus para pekerjanya dengan segera, setelah menunda lebih dari USD125 ribu (158.963 dolar Singapura). (ade)