Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Impor Garam Bentuk Pemerintah yang Tak Berjuang

Gina Nur Maftuhah , Jurnalis-Selasa, 24 Januari 2012 |19:02 WIB
Impor Garam Bentuk Pemerintah yang Tak Berjuang
Ilustrasi Garam.
A
A
A

JAKARTA - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merasa prihatin dengan kenyataan yang menyebut bahwa Indonesia masih tidak bisa lepas dari jeratan impor garam.

Adapun selama ini pemerintah dinilai terlalu pasrah dengan keadaan alam Indonesia sehingga memilih impor dibandingkan dengan memperbaiki teknologi.

"Sangat menyedihkan mendengar bahwa importasi garam industri hingga 100 persen. Ini menunjukkan kelemahan mendasar dari pemerintah dalam membangun industri garam nasional," ungkap anggota DPR Komisi IV Rofi Munawar dalam keterangan tertulisnya kepada okezone, Selasa (24/1/2012).

Rofi menjelaskan, ada tiga syarat vital dalam memproduksi garam sesuai standar. Pertama yaitu air laut yang memiliki kadar garam tinggi.

"Kedua adalah pantai atau daratan sebagai ladang garam utama dengan tinggi sekira tiga meter di atas permukaan laut sehingga air laut tidak boleh porous atau merembes ke dalam tanah (ladang). Ketiga adalah iklim sebagai sumber energi," lanjut dia.
 
Rofi menuduh, pemerintah dan PT Garam (BUMN) terlihat pasrah terhadap kondisi alam Indonesia yang dinilai tidak memenuhi tiga persyaratan umum tadi dan lebih memilih sebagai importir.

"Jepang dan Australia saja bisa dengan kondisi alam yang tidak ideal, karena mereka memiliki kemauan sehingga akhirnya tercipta teknologinya. Ini semua hanya masalah orientasi yang jelas dari pemerintah, karena selama bertahun-tahun pasrah pada kondisi alam tanpa berupaya untuk meningkatkan teknologi dan inovasi untuk peningkatan produksi garam industri," paparnya.

Sebagai informasi, impor garam ke Indonesia terbanyak berasal dari Australia yaitu 1,7 juta ton dengan nilai USD85,95 juta (Januari-November 2011). Impor garam di Indonesia selanjutnya berasal dari India sebanyak 976 ribu ton senilai USD52,15 juta. Indonesia juga mengimpor garam dari Selandia Baru, Jerman, dan negara-negara lain.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement