Ekonomi Global Diyakini Terus Memburuk

R Ghita Intan Permatasari - Okezone
Kamis, 26 Januari 2012 07:35 wib
Ilustrasi: Kalkulator
Ilustrasi: Kalkulator
JAKARTA - Masih terjadinya krisis perekonomian di sejumlah negara menjadikan kekhawatiran akan perekonomian global semakin menjadi-jadi.

Menurut survei yang dilakukan oleh Pricewaterhouse Coopers Internasional (PWC) dalam "15th Annual Global CEO Survey" menyatakan bahwa hampir setengah atau 48 persen dari 1.258 CEO yang disurvei di seluruh dunia percaya bahwa ekonomi global akan semakin menurun dalam 12 bulan ke depan. Hanya 15 persen yang mengatakan perekonomian global akan membaik di 2012.

"Namun hampir tiga kali lebih banyak CEO yang percaya dalam prospek pertumbuhan perusahaan mereka untuk 12 bulan ke depan daripada prospek untuk ekonomi global. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah belajar bagaimana mengelola bisnis untuk melewati masa ekonomi yang sulit dan bergejolak," ungkap Pimpinan PWC Internasional, Dennis M Nally dalam siaran persnya, Kamis (26/1/2012).

40 persen CEO mengatakan bahwa mereka sangat yakin dengan pertumbuhan pendapatan mereka dalam 12 bulan kedepan akan turun dibanding tahun lalu yang 48 persen. Selain itu lebih dari setengah CEO di seluruh dunia mengharapkan untuk meningkatkan jumlah karyawannya dalam 12 bulan ke depan, meskipun proses rekrutmen lebih banyak disektor hiburan, media dan lain-lain.

Di sisi lain, penurunan rasa yakin tersebut terjadi mayoritas di kawasan Eropa Barat, karena terjadinya krisis utang. Dengan adanya penurunan rasa yakin tersebut hanya seperempat CEO dari Eropa yang menyatakan bahwa mereka sangat yakin akan pertumbuhan pendapatan usahanya.

Hal tersebut mengalami penurunan yang cukup tajam yaitu hampir 40 persen dibandingkan tahun lalu. Keyakinan jangka pendek juga mengalami penurunan di mata para CEO di Asia Pasifik. Di mana rasa yakin para CEO turun menjadi 42 persen dari 54 persen pada tahun lalu.

China juga mengalami penurunan yang sangat besar dalam hal ini dimana hanya 51 persen CEO yang memiliki keyakinan akan perekonomian yang turun dibandingkan tahun lalu yang sebesar 72 persen.

"Keyakinan CEO jelas menurun saat mereka berurusan dengan resesi. CEO kecewa jalannya perekonomian global dan langkah pemulihannya. Optimisme yang telah terbangun dengan hati-hati sejak tahun 2008 mulai surut," kata Dennis.

Rasa keyakinan para CEO yang turun tersebut diakibatkan oleh berbagai hal diantaranya 80 CEO memiliki kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi yang tidak menentu, 64 persen mengenai ketidakstabilan pasar modal, 66 persen mengenai tanggapan pemerintah akan defisit fiskal dan beban utang, 58 persen mengenai volatilitas nilai tukar, dan 56 persen mengenai peraturan pemrintah.

Dan sementara 56 persen dari CEO mengatakan keadaan finansial perusahaan mereka terpengaruh oleh krisis utang Eropa, dan 45 persen mengatakan telah mengambil langkah-langkah untuk merespon.

"Krisis utang yang sedang berlangsung di Uni Eropa bersamaan dengan ketidakpastian ekonomi telah mengempiskan keyakinan dlam pertumbuhan bisnis di seluruh dunia. Bahkan pertumbuhan ekonomi yang cepat di Asia dan Amerika Latin tidak kebal terhadap realitas stagnasi ekonomi, menyangkal gagasan bahwa ekonomi global telah dipisahkan. CEO di seluruh dunia prihatin akan kesehatan ekonomi global," jelasnya.

Kabar baiknya adalah bahwa siklus panjang ketidakpastian ekonomi telah mengajarkan para CEO bagaimana mengelola bisnis mereka dengan efisisien. mereka lebih siap untuk berurusan dengan ekonomi yang didefinisikan oleh volatilitas di pasar global, melemahnya permintaan dari negara maju dan ketidakpastian dipasar negara berkembang. Banyak CEO yakin mereka dapat memberikan pertumbuhan pendapatan meskipun dalam kondisi sulit. (wdi)
TWITTER »
twit