Ilustrasi. Corbis.
NEW YORK - Harga minyak mentah kembali naik akibat rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) atau US Federal Reserve (Fed) untuk mempertahankan tingkat suku bunganya sampai akhir 2014.
Setelah pertemuan untuk membahas kebijakan yang dilangsungkan selama dua hari, the Fed menyatakan perekonomian AS cukup berkembang, meskipun perlambatan pertumbuhan ekonomi global, tingkat pengangguran AS masih tinggi dan perekonomian menghadapi risiko penurunan yang signifikan.
"Ini menjadi pertanda baik untuk dolar AS untuk menguat, dan harga komoditas yang lebih tinggi ketika The Fed akan terus menahan inflasi sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali perekonomian AS," tutur Again Capital LLC, John Kilduff, di New York, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (26/1/2012).
"Kami melihat beberapa pembuat kebijakan dalam the Fed, memilih melihat kenaikan pertama dalam suku bunga tahun ini, dengan beberapa orang lain melirik kenaikan pada 2016. Pada ketentuan itu, investor mungkin jangka panjang mungkin akan ditahan, tentang akomodasi kebijakan dari the Fed," ungkap analis PFGBest Research di Chicago Phil Flynn.
Hasilnya, minyak mentah berjangka AS atau light sweet untuk pengiriman Februari diperdagangkan di USD99,40 per barel, naik 45 sen, setelah sempat naik ke sesi tertinggi USD100,40 per barel, dan level terendahnya USD97,53 per barel.
Di London, minyak mentah jenis ICE Brent pada pengiriman Maret diperdagangkan di USD109,81 per barel, turun 22 sen, setelah mencapai sesi tinggi USD110,89 per barel. Namun, dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange (NYMEX), Brent berhasil rebound 47 sen dan berada di USD110,50 per barel, sementara minyak mentah AS naik USD93 sen menjadi USD99,87 per barel.
Dengan demikian, gap antara brent dengan light sweet menyempit menjadi USD10,41 per barel, setelah sebelumnya berada pada USD11,08 per barel. Volume perdagangan Brent melonjak 53 persen di pada rata-rata perdagangan 30 hari, dan Volume minyak mentah AS naik 14 persen terhadap rata-rata 30 hari. (mrt) (rhs)