Soal Kartu Kredit, RI Harus Berkaca dari Amerika

R Ghita Intan Permatasari - Okezone
Kamis, 26 Januari 2012 11:33 wib
Ilustrasi. Corbis.
Ilustrasi. Corbis.
JAKARTA - Tingginya konsumsi domestik Indonesia diharapkan tidak berimbas pada tingginya penggunaan kartu kredit yang terjadi, karenanya Indonesia perlu menerapkan saving atau menabung sehingga neraca perdagangan tidak negatif.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Firmanzah menuturkan, Indonesia harus berkaca dari Amerika Serikat (AS) dalam hal saving atau menabung. Menurutnya, saat mengalami krisis pada 1998, Presiden Bush yang saat itu memimpin, mendorong masyarakatnya untuk berbelanja dengan menggunakan uang tunai.

"Kampanye menggunakan uang cash tersebut dikarenakan adanya kecenderungan pada saat setelah krisis 1998, orang cenderung berhenti berbelanja dan dikhawatirkan barang yang dihasilkan tidak terserap. Sehingga masyarakat AS cenderung untuk menggunakan kartu kredit," jelas dia dalam acara Investment Strategy and Oppurtunity Volatile Market, di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (26/1/2012).

Kala itu, bank sentral AS menemukan dalam satu rumah tangga mempunyai enam kartu kredit, sehingga perekonomian didorong oleh kredit yang tinggi dan tingkat saving pun cenderung rendah.

"Dengan tingkat konsumsi yang tinggi di Indonesia, jangan sampai hal itu didorong dari tingginya kredit, sehingga tingkat saving pun menjadi rendah," paparnya.

Adapun tingkat konsumsi yang cenderung tinggi di Indonesia ditopang oleh pasar domestik karena ketergantungan Indonesia terhadap ekspor cukup kecil. "Ketika Eropa dan AS terguncang, kita cenderung tidak merasakan goncangan yang terlalu besar karena nilai ekspor kita kecil. Pasar domestik kita yang cukup besar," pungkasnya. (mrt) (rhs)
TWITTER »
twit