Ilustrasi. Corbis.
NEW YORK - Harga minyak mentah berjangka setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (Fed) tetap mempertahankan suku bunga acuannya hingga 2014. Hal tersebut memicu peningkatan tajam dalam pesanan untuk barang-barang produksi AS dan memicu minat beli pada minyak dan komoditas lainnya.
Ancaman Iran untuk menutup selat Hormuz juga turut mendongkrak harga minyak mentah. Di London, minyak mentah jenis ICE Brent untuk pengiriman Maret ditutup naik 98 sen pada USD110,79 per barel, setelah mencapai tingkat tertinggi USD111,89 per barel.
"Kenaikan Brent didukung pemotongan pasokan minyak mentah Iran dalam langkah pencegahan oleh negara Uni Eropa, sebelum mereka dapat menemukan sumber-sumber alternatif menjelang sanksi," kata direktur BNP Paribas Brokerage Perdana Inc, Tom Bentz, di New York seperti dilansir dari Reuters, Jumat (27/1/2012).
Di Teheran, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, negaranya di bawah ancaman sanksi baru Uni Eropa yang melarang impor minyak Iran pada 1 Juli, ditambah AS tindakan yang bertujuan untuk tidak membeli minyak dari Iran, sebagai bagian dari sanksi untuk mengekang program nuklir Iran di Teheran.
Harga minyak mentah AS untuk pengiriman Maret naik 30 sen dan menetap di USD99,70 per barel, setelah menyentuh sesi tertinggi USD101,39 per barel. Gap antara Brent terhadap minyak mentah AS light sweet, melebar ke USD11,09 per barel naik ketimbang penutupan kemarin USD10,41 per barel.
Total volume perdagangan minyak mentah Brent naik 34 persen terhadap pada rata-rata 30 hari. Sementara total volume perdagangan minyak mentah AS turun lima persen dari rata-rata 30 hari. (mrt) (rhs)