Ilustrasi. Corbis.
DAVOS - Dalam Ajang World Economic Forum 2012 yang diselenggarakan di Davos, Swiss, Indonesia masuk dalam kategori trillion dolar club.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan memaparkan hal tersebut ditandai dengan output ekonomi nasional atau PDB Indonesia melampaui nilai USD1 triliun (setelah PPP disesuaikan) yakni sejajar dengan RRT, India, Rusia, Brasil, Korea, Meksiko, dan Turki.
Dalam pertemuan yang diselenggarakan di Davos. Swiss pada 27-28 Januari 2012, Gita berperan aktif dalam menentukan arah perdagangan global dan strategi ekonomi yang berorientasi pada aksi nyata yang sangat dibutuhkan, meningkatkan posisi Indonesia di dunia, serta menyuarakan kepentingan Indonesia di sesi-sesi tingkat tinggi.
Pada hari pertama keikutsertaannya, Gita Wirjawan memimpin sesi pertemuan yang berjudul "Realizing a New Vision for Agriculture: An Action Agenda". Di antara para Kepala Negara, para Menteri dan Pimpinan Perusahaan (CEO) dari berbagai penjuru dunia, termasuk Bill Gates prakarsa Indonesia tentang Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro) guna menggalang kerja sama pemerintah dengan perusahaan lokal dan multinasional.
Hingga kini, PISAgro telah menetapkan program-program nyata yang berorientasi pada hasil kerja dengan tujuan swasembada pangan dan peningkatan panen produk pertanian yang utama, dengan memperhatikan pelestarian lingkungan serta kesejahteraan sosial rakyatnya.
"Meskipun baru diluncurkan tahun lalu, pada pertemuan bergengsi ini, PISAgro mendapat perhatian besar sebagai suatu model kemitraan antarpemerintah dan swasta yang menunjukkan kepemimpinan dan komitmen Indonesia dalam menangani masalah ketahanan pangan melalui program-program pertanian yang berorientasi pada program kerja nyata," ungkap Gita dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (31/1/2012).
Pada hari kedua, Gita mengikuti pertemuan informal antar Menteri WTO yang diselenggarakan oleh Switzerland Federal Councilor, Johann N. Schneider-Ammann, dan dipimpin oleh Direktur Jenderal WTO Pascal Lamy. Pertemuan ini terfokus pada pembahasan cara-cara melangkah demi kemajuan agenda utama WTO, terutama agenda Putaran Doha. Mendag mengangkat pentingnya kepemimpinan politik terutama karena bilateralisme dan regionalisme dapat bergandengan tangan menjadi multilateralisme.
Namun prinsip ini dapat menjadi kecanduan (adiktif) dan dapat mengarah pada ketidakpercayaan (diskredit) pada WTO. "Pokok persoalannya adalah tumbuh menjamurnya bilateralisme dan regionalisme. Jika kurang fokus dan kurang komitmen dalam menjaga multilateralisme, adalah ibarat mobil tanpa GPS," tuturnya.
Sesi pertemuan tingkat tinggi ini membahas secara rinci berbagai pandangan mengenai topik yang menjadi pembahasan dalam forum ini sesuai judulnya “After Doha: The Future of Global Trade”. Gita mengingatkan kepada para panelis mengenai pentingnya memiliki kepemimpinan politik yang dapat mendorong maju.
“Sementara ini kita mengharapkan agar para pemimpin politik dari negara maju berada pada posisinya, sedangkan negara-negara berkembang dan negara-negara yang baru bangkit seperti Indonesia, terus meningkatkan kemampuannya dalam jangka pendek maupun jangka panjang untuk mendorong industrinya dan meningkatkan posisinya dalam mata rantai perdagangan," kata Gita.
Sementara itu, pada sela-sela pertemuan forum dunia ini, Gita juga bertemu dengan mitranya Menteri Perdagangan dan Industri Norwegia Trond Giske, untuk membahas proses kerja sama yang sedang berlangsung antara kedua negara. Lalu Gita juga bertemu dengan beberapa pimpinan perusahaan tingkat dunia di bidang farmasi, consumer goods, kimia, minyak dan gas, serta perbankan.
Selain itu, terdapat berbagai diskusi tambahan yang mendukung kemajuan Indonesia untuk meningkatkan posisinya dalam mata rantai perdagangan, termasuk membahas pembangunan infrastruktur perangkat keras maupun perangkat lunak seperti bidang pendidikan dan kesehatan. (mrt) (ade)