Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BP Migas : Lebih dari 3 Ribu Barel Minyak Hilang di 2011

Saugi Riyandi , Jurnalis-Kamis, 02 Februari 2012 |09:03 WIB
BP Migas : Lebih dari 3 Ribu Barel Minyak Hilang di 2011
Ilustrasi. (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Banyaknya gangguan operasi yang dialami kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) minyak dan gas bumi menghambat upaya peningkatan produksi minyak dan gas bumi di 2012.

Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, BP Migas Gde Pradnyana mengatakan gangguan telah marak terjadi sejak awal tahun ini.

"Salah satunya berhentinya produksi Sele Raya di blok Merangin Dua, lapangan Tampi, sebesar 1.300 barel per hari sejak 23 Januari 2012 lalu. Saat ini produksinya hanya 80 barel per hari,” ujarnya dalam keterangan persnya kepada okezone di Jakarta, Kamis (2/2/2012).

Gde menegaskan produksi Sele Raya terhenti seiring keluarnya surat Bupati Musi Rawas yang memerintahkan penghentian pengangkutan minyak mentah menggunakan truk tangki sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

"Dalam suratnya tersebut, secara sepihak, pemerintah kabupaten Musi Rawas membatalkan perjanjian kerja sama pemanfaatan jalan untuk pengangkutan minyak mentah antara pemerintah Musi Rawas dengan Sele Raya," tegasnya.

Tidak hanya Sele Raya, lanjut dia terjadi demo di kantor dan fasilitas produksi Chevron di Minas dan Rumbai, Riau. Hal serupa dialami Santos di Sampang dan Sumanep, Madura. “Tidak hanya menghambat produksi, kendala-kendala tersebut juga membuat ketidakpastian investasi," lanjutnya.

Dia mengungkapkan di Sumatera Bagian Selatan tercatat sebagai daerah yang paling banyak mengalami gangguan operasional seperti pencurian, vandalisme, premanisme, demo, hingga kebocoran pipa. Tahun 2011 tercatat 346 gangguan terjadi di Sumatera Selatan. “Data tersebut berdasarkan laporan yang diterima BP Migas. Tidak menutup kemungkinan ada gangguan yang tidak dilaporkan,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan masalah yang paling menonjol di Sumatera Bagian Selatan adalah pencurian minyak mentah. KKKS yang sering melaporkan kejadian pencurian minyak, antara lain Pertamina EP, Medco E&P (Rimau), ConocoPhillips (Grissik), dan UBEP Jambi. “Kehilangan minyak yang tercatat di 2011 sekitar tiga ribu barel, tapi kami yakin jumlahnya jauh lebih besar dari angka itu,” kata Gde.

Gde mengakui, gangguan operasional berkontribusi pada penurunan produksi migas. “Faktor nonteknis menyumbang 60 persen penyebab turunnya produksi. Oleh karena itu, kami mengajak semua pihak terkait bekerja sama mengurangi gangguan operasional yang dihadapi kontraktor di lapangan," pungkasnya.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement