Ilustrasi. Corbis.
JAKARTA - Awal tahun baru sudah dimulai, namun Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) sudah pesimistis target produksi minyak yang telah ditetapkan APBN 2012 sebesar 950 ribu barel per hari (bph) akan tercapai.
Kepala BP Migas R Priyono menilai target tersebut tidak realistis. Menurutnya saat ini pihaknya mematok target lifting sebesar 930 ribu bph sementara untuk target lifting Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) hanya 891 ribu bph.
"Rendahnya produksi minyak dikarenakan faktor eksternal selain penurunan produksi secara alamiah," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (2/2/2012).
Menurutnya, ada beberapa ancaman yang mengganggu pencapaian produksi minyak di 2012. "Salah satunya kebijakan pemerintah Aceh dalam kelanjutan produksi Gas Blok pase dan penghentian kegiatan eksplorasi oleh pemerintah Aceh terhadap empat KKKS yaitu Petronas, Talisman, Renco, Serica energy," ungkap Priyono.
Selain itu, adanya penghentian izin kegiatan trucking crude dari lapangan yang dikelola Sele Raya oleh pemerintah kabupaten turut menghambat pencapaian lifting. "Tidak tercapainya produksi di WK WMO karena pergantian operatorship dan masalah tumpang tindih lahan kegiatan Petrochina Jabung dengan perusahaan perkebunan dan masalah perizinan oleh pemda yang berlarut-larut," tegasnya.
Priyono menambahkan, upaya penggantian kapal Lentera Bangsa yang terbakar di CNOOC, dan penurunan kemampuan reservoir di subsurface yang sangat signifikan di WK Total E&P Indonesie turut menjadi faktor penghambat. "Lalu, masalah pendanaan yang belum optimal dan pelaksanaan teknologi EOR yang belum masif di PT Pertamina EP," pungkasnya. (mrt) (rhs)