DENPASAR - Cuaca buruk yang menerjang sejumlah wilayah di Bali membuat aktivitas nelayan terganggu sehingga terjadi kenaikan harga ikan dan produk laut lainnya akibat akibat pasokan terhambat.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tabanan Ketut Arsana Yasa mengatakan, selama 10 hari terakhir, praktis nelayan tidak berani melaut karena cuaca buruk yang ditandai gelombang laut cukup tinggi bahkan hingga empat meter.
"Para nelayan tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi cuaca ekstrem seperti sekarang ini," ujar Arsana Yasa dihubungi, Jumat (3/2/2012).
Nelayan terpaksa memarkir perahu motor mereka karena tidak berani ambil risiko dengan keselamatan jika nekat tetap melaut. Dengan tidak melautnya para nelayan, mengakibatkan pasokan pasokan ikan dan berbagai jenis hasil laut mengalami penurunan.
Hampir terjadi kenaikan harga berbagai jenis ikan dengan rata-rata kenaikannya sebesar Rp20 ribu per kilogram (kg) atau 30 persen.
"Ya kondisi tak lepas dari berkurangnya pasokan ikan dan hasil laut akibat nelayan tak bisa melaut karena cuaca ekstrem," imbuh pria yang akrab disapa Sadam ini.
Dicontohkan, ikan jenis gurami yang sebelumnya seharga Rp28 ribu per kg, kini menjadi Rp30 ribu per kilogram. Kabupaten Tabanan yang dikenal banyak menghasilkan lobster dan udang juga menghadapi kondisi kurang menguntungkan bagi para nelayan setempat.
Mereka tidak bisa melaut karena cuaca ekstrem sehingga tak ada hasil tangkapan untuk bisa dijual. "Harapan nelayan agar bisa menjual tangkapan dengan harga mahal kini hanya khayalan," papar dia.
Bahkan mereka menghadapi dihantui masalah karena harus memikirkan alat tangkap Lobtser yang masih tertinggal di laut. Karena itu, jika cuaca buruk terus berlangsung, maka dipastikan pasokan akan makin berkurang dan harga akan naik.
Di pihak lain, Pemerintah Provinsi Bali mendukung jika pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menetapkan bencana nasional bagi para nelayan akibat cuaca ekstrem yang terjadi sejak sebulan terakhir.
Kepala Biro Humas Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng mengatakan, cuaca ekstrem belakangan ini sejatinya layak menjadi bencana nasional bagi nelayan.
"Sebagaimana penanganan bencana umumnya, pemerintah harus membantu menanganinya ya minimal memberi subsidi bukan dalam bentuk uang, melainkan peralatan dan teknologi kepada nelayan,” imbuhnya.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.